home.social

#worldwarii — Public Fediverse posts

Live and recent posts from across the Fediverse tagged #worldwarii, aggregated by home.social.

  1. Calls to preserve largest Australian World War II prison camp
    By Andrew Mangelsdorf

    The camp housed Italian, German and Japanese prisoners between 1941 and 1947 and a portion of the former site is now on the market.

    abc.net.au/news/2026-09-06/aus

    #WorldWarII #PrisonersofWar #AndrewMangelsdorf

  2. Movie TV Tech Geeks #MovieNews #Dunkirk #TomHardy #WorldWarII Tom Hardy and Christopher Nolan Officially Reunite on the WWII Epic Taking Over Streaming dlvr.it/TVL9tp

  3. Argentine court clears return of Nazi-looted portrait worth $400k

    A portrait looted from a Jewish art dealer in WWII will be given back to the owner's heir, after a deal where the daughter of a fugitive Nazi official agreed to drop her claim.

    abc.net.au/news/2026-09-05/naz

    #ArtHistory #WorldWarII #Crime

  4. Joan Clarke, who died OTD in 1996, was appointed a Member of the Order of the British Empire for her cryptanalysis work at Bletchley Park during #WorldWarII cromwell-intl.com/travel/uk/bl #travel #England #history

  5. Joan Clarke, who died OTD in 1996, was appointed a Member of the Order of the British Empire for her cryptanalysis work at Bletchley Park during #WorldWarII cromwell-intl.com/travel/uk/bl #travel #England #history

  6. Joan Clarke, who died OTD in 1996, was appointed a Member of the Order of the British Empire for her cryptanalysis work at Bletchley Park during #WorldWarII cromwell-intl.com/travel/uk/bl #travel #England #history

  7. Joan Clarke, who died OTD in 1996, was appointed a Member of the Order of the British Empire for her cryptanalysis work at Bletchley Park during #WorldWarII cromwell-intl.com/travel/uk/bl #travel #England #history

  8. Judging Japan’s Identity as a Peaceful Nation – Zhang Yun

    Revising Japan’s three non-nuclear principles would require far more than a simple adjustment to national security policy. It…
    #EuropeSays #Japan #JP #NuclearSecurity #regionalsecurity #worldwarII
    europesays.com/japan/86069/

  9. Modi congratulates Meloni for becoming Italy’s longest serving postwar PM

    Prime Minister Narendra Modi has extended congratulations to his Italian counterpart Giorgia Meloni for becoming Italy’s longest continuously…
    #Italy #Europe #Europa #EU #GiorgiaMeloni #india #India-Italyrelations #ItalyPrimeMinister #Meloni #NarendraModi #Postwarhistory #WorldWarII
    europesays.com/italy/45038/

  10. OTD in 1939 the UK and France began a naval blockade of Germany that lasted to the end of #WorldWarII, beginning the Battle of the Atlantic cromwell-intl.com/travel/uk/bl #travel #history

  11. Canada court orders release of previously redacted sections of Nazi report

    Canada’s Federal Court ordered on Tuesday that previously redacted sections of a 1986 report be disclosed, following the…
    #Canada #b'naibrith #DIASPORA #Holocaust #Nazi #Nazicollaborators #naziwarcriminals #worldwarii
    europesays.com/canada/195293/

  12. Cerpen: Paku dan Palu Karya Utuy Tatang Sontani

    Paku dan Palu

    Cerita Pendek Karya Utuy Tatang Sontani (1948)

    ATMA buta huruf, pekerjaannya memperbaiki sepatu rusak, berkeliling tiap hari masuk gang keluar gang mendatangi rumah orang lain, membawa paku, palu, jara, tali rami dan alat lain lagi. Itulah mata pencahariannya semenjak ia lepas dari tanggungan orang tuanya sampai ia mempunyai isteri dan seorang anak.

    Tatkala pada tanggal 21 Juli 1947 tentara Belanda mengadakan aksi-polisi mendesak rakyat penduduk kota mengungsi kepegunungan. Atmapun pergi bersama keluarganya mengosongkan rumah, dengan alasan takut pada peluru seperti juga alasan bagi kebanyakan yang buta huruf. Tapi kalau orang lain berangkat dengan terengah-engah dibebani harta, Atma dan isterinya ringan saja mengayun langkah. Sebab tiada banyak yang mereka bawa. Hanya sebundelan pakaian, satu peti perabot untuk memperbaiki sepatu dan satu dua perabot dapur. Hanya itulah harta mereka.

    Ke mana mereka mesti pergi, mereka sendiri tidak tahu. Tapi setelah jauh meninggalkan kota, sampai jugalah mereka pada seorang petani yang rela menerima mereka diam dirumahnya.

    Kepada yang punya rumah itu Atma memberikan sebuah kemeja yang sudah usang tapi masih sering melekat ditubuhnya. Dengan demikian selama beberapa hari ini mereka tidak usah mencari-cari beras dan dengan demikian pula berarti Atma sudah kehilangan sepertiga dari semua jumlah bajunya. Tapi tidak apa, sebab pada pendapatnya tidak akan selamanya harus mengeluarkan pakaian. Untuk segera memperoleh uang iapun tidak lama membiarkan dirinya diam di rumah. Ia pergi meninggalkan anak dan isterinya membawa alat-alat untuk memperbaiki sepatu, mendatangi rumah orang lain, kalau-kalau yang punya rumah itu ada mempunyai sepatu rusak yang harus diperbaiki.

    Ia menjalankan kewajiban seperti tatkala masih diam di kota. Dan seperti kebiasaannya di kota juga, setelah hari lohor baru ia pulang.

    Tapi ia pulang dengan muka suram; katanya kepada isterinya: “Tiada seorang juga yang mempunyai sepatu rusak. Ya, penduduk gunung malah tidak tahu bersepatu.”

    Isterinya menganjurkan supaya esok pergi lagi ke tempat yang agak jauh di mana banyak orang kota mengungsi. Orang kota sudah tentu mempunyai sepatu.

    Anjuran itu dijalankan. Pada keesokan harinya Atma pergi lagi lebih jauh dari tempat yang didatanginya kemarin. Akan tetapi ia pulang dengan muka suram juga: ujarnya kepada isterinya: “Banyak orang kota yang kaya kujumpai. Tapi mereka tidak kelihatan bersepatu. Katanya mereka meniru orang kampung, supaya disangka orang kampung oleh tentara Belanda yang mungkin bersua dengan mereka.”

    Meskipun demikian, namun pada keesokan harinya Atma pergi lagi, sekalipun tiada harapan akan menemui sepatu rusak. Setelah lima hari usahanya itu tidak memberi hasil, mulai dia tidak percaya lagi akan faedahnya perabot yang dibawanya kian-kemari. Mulai timbul pikiran harus menunda pekerjaan jadi tukang memperbaiki sepatu. Tapi waktu isterinya mengatakan sudah tiada punya beras dan melahirkan pendapat supaja perabot yang tiada gunanya itu dijual saja, Atma menjawab dengan melemparkan sebuah baju; katanya: “Perabot itu jangan dijual, sebab siapa tahu esok atau lusa kita ke kota lagi. Daripada menjual perabot itu, lebih baik menjual baju saja.”

    Dengan begitu ia kini sudah kehilangan duapertiga dari semua jumlah bajunya. Dan supaja uang penjualan baju itu dapat terpakai lama, mulai waktu itu makan mereka dikurangi. Kalau biasanya dua kali sehari, kini hanya satu kali saja dan dicampur singkong pula. Selaku menghibur diri sendiri, selalu ia berkata: “Biarlah, nanti kalau kita sudah ke kota lagi, kita akan makan tiga kali sehari.”

    Ia tidak tahu bahwa dari kurang makan badan anaknya tidak cukup menerima pitamin. Ia tidak tahu hal itu sebab ia tiada tahu pelajaran tentang kesehatan. Bila anaknya kelihatan sakit-sakit, dianggapnya penyakit itu datang dibawa angin lalu.

    Meskipun demikian, namun jika penyakit anaknya itu mendatangkan ajal, peristiwa kematian anaknya itu ditangisinya dengan menghamburkan kata-kata: “Ya, kalau kita diam di kota, belum tentu anak kita meninggal dunia…”

    Iapun mendapat tahu dari orang lain, bahwa sekarang ini pengungsi belum dibolehkan lagi memasuki kota, sebab di kota belum aman. Hal ini diutarakan pula oleh bunyi senapan yang sebentar-sebentar terdengar mengerikan. Lagi pula menurut cerita orang kepadanya, siapa yang memaksa masuk ke kota, pasti menemui bahaya, entah akan ditembak oleh tentara Indonesia dengan alasan disangka mata-mata, entah akan dibunuh oleh tentara Belanda lantaran dituduh memusuhi mereka.

    Padahal ditembak ia tidak sudi. Ia meninggalkan kota juga lantaran tidak mau jadi kurban peluru.

    Ia bingung. Sebab untuk terus diam di pegunungan di mana ia tidak menemui sepatu rusak yang mesti diperbaiki, ia tidak sanggup lama lagi. Dan lebih dari dua baju tak dapat lagi ia keluarkan.

    Ia sudah mencoba menjual tenaga yang laku di pegunungan, yaitu kuli memikul. Tapi ia tidak kuat. Akibatnya menderita sakit sekujur badan. Pernah pula ia kuli mencangkul meniru orang kampung, akan tetapi hanya ditertawakan orang saja, sebab tidak biasa.

    Ada juga pikiran mau dagang. Tapi kecuali belum pernah, takut tidak laku, juga tidak ada modal.

    Akhirnya datang pula saat isterinya menceritakan tidak punya beras disertai anjuran supaya perabot yang tidak ada gunanya itu dijual saja.

    Apa boleh buat, daripada tidak makan relalah ia melepaskan sebagian dari perabot itu. Kulit, tali rami, jara dan yang lainnya lagi diizinkannya supaya dijual. Kecuali sebungkus paku dan sebuah palu. Katanya: “Dulu aku memulai dengan paku dan palu. Nanti juga, kalau kita sudah ke kota, paku dan palu itu akan kujadikan modal.”

    Tapi di dalam ia rela menjual sebagian dari perabot itu, isterinya melihat dia lesu terkulai. Ketika anaknya mati, ia kelihatan sedih. Tapi sekarang diceraikan dengan sebagian dari perabotnya, ia mengandung rasa pahit. Kepahitan itu jelas nampak di kala ia duduk memeluk dengkul memandang paku dan palu.

    KEDUA barang itu tak hendak lagi terlepas dari tangannya. Dibungkusnya baik-baik dan disimpannya tidak jauh dari petidurannya. Dan tatkala pada suatu hari ada kabar bahwa akan datang patruli Belanda ke tempat mereka, di dalam orang lain ribut mencari persembunyian seraya membawa barang-barang berharga yang patut disembunyikan, iapun lari meninggalkan rumah dengan mendahulukan membawa paku dan palu.

    Ya, kedua barang itu mesti ia bawa lagi ke kota sebagai modal, seperti yang dikatakannya kepada isterinya. Itu berarti bahwa dia bukan hanya mesti kuat mempertahankan kedua barang itu jangan sampai lepas sebagai barang kepunyaannya. Tapi pula ia mesti berikhtiar untuk segera dapat pergi ke kota.

    Akan tetapi apabila ia menanyakan kepada orang lain: “Kapankah kota aman lagi?” selalu ia dapat jawaban: “Wah, masih lama lagi.” Dalam pada itu isterinya sudah berkata lagi bahwa beras sudah habis.

    Sekali ini terhadap keterangan isterinya itu ia bersikap diam. Terus terdiam. Hanya nafasnya ditarik panjang-panjang.

    Lama dulu ia hening tidak bergema. Kemudian diambilnya bungkusan paku dan palu itu. Dengan senyum pahit ia berkata: “Aku akan pergi membawa paku dan palu ini. Barangkali akan lama juga, sebab sebelum aku mendapat beras, aku tak akan pulang.”

    Dengan langkah gontai dan tiada lagi mempedulikan apa yang dikatakan isterinya, ia berjalan meninggalkan rumah.

    Keesokan harinya ternyata ia tidak pulang. Demikian pula pada hari ketiganya, keempatnya dan kelimanya. Dan isterinya menunggu mula-mula dengan tenang, kemudian dengan gelisah dan akhirnya timbul curiga. Maklumlah keadaan di mana-mana masih dalam suasana perang; banyak cerita orang yang menerangkan tentang adanya yang dibunuh yang ditawan serta disiksa.

    Kepada pedagang yang pulang dari pasar sering ia menanyakan kalau-kalau berjumpa dengan lakinya. Tapi selalu dijawab dengan “Tidak” saja. Ada juga keinginan untuk mencari keterangan dengan jalan pergi menanyakannya kepada penduduk lain kampung, tapi ia tiada keberanian jauh meninggalkan rumah, sebab takut kalau-kalau di jalan bersua dengan tentara Belanda.

    Untuk dapat makan, bajunya yang tinggal satu dijualnya dan ia terus menunggu kedatangan lakinya dengan badan tidak terbungkus lagi.

    Sarungnya yang satu-satunya melekat di tubuhnya sudah bertukar dengan kain goni, tatkala pada suatu hari ia mesti menerima kedatangan seorang opsir tentara yang baru saja dikenal dan datang kepadanya dengan pertanyaan: “Kakak isteri orang yang …. membawa paku dan palu?”

    Ia jawab dengan mengangguk menelan ludah.

    “Kedatangan saya,” kata opsir itu, “ialah untuk memberitahu kepada kakak bahwa laki kakak meninggal dunia.”

    Perkataan itu lebih tajam dari pisau menusuk jantungnya. Tapi ia memaksa bertanya: “Apa sebabnya? Dan di mana?”

    “Mayatnya kedapatan tidak jauh dari kota, sehari setelah ia ditahan oleh kami di markas. Ia ditahan, sebab mulanya diduga mata-mata yang hendak menyelundup ke kota. Tapi ia jadi tawanan kami tidak lebih dari satu hari. Setelah dia ternyata tidak waras pikirannya, yaitu setelah mengamuk di kala paku dan palunya hendak kami tahan dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke kota untuk mencari sepatu rusak, diapun lalu dilepaskan. Tapi meskipun ia diperingati supaya jangan melalui jalan yang sering diinjak patruli Belanda, namun ia ke sana juga seraya menepuk-nepuk dada dan tertawa. Akhirnya dia kedapatan sudah jadi mayat.”

    Isteri Atma tidak menjawab, hanya air matanya saja jatuh bertitik. Ia tidak dapat memahamkan apa yang terjadi dengan lakinya itu. Sekalipun dahinya dikerut-kerutkan, tapi ia tetap tidak mengerti.

    Sumber: Utuy Tatang Sontani, Orang-Orang Sial: Sekumpulan cerita tahan 1948-1950, Balai Pustaka, B.P. No. 1847, Djakarta, 1951. Urutan cerita menurut waktu dikarangnya. Digambari oleh Ooq. Foto: Warga Palestina menunggu tukang sepatu memperbaiki sepatu mereka di Khan Yunis, Palestina, 2024. © Bashar TALEB/AFP/File

    Bibliografi

    • Utuy Tatang Sontani, 1948, Bunga Rumah Makan. Pertundjukan watak dalam satu babak. B.P. 1650. 32 pp. 2nd. ed. 1954.
    • Utuy Tatang Sontani, 1948, Suling. B.P. 1651. 92 pp.
    • Utuy Tatang Sontani, 1949, Tambera. B.P. 1671. 279 pp. 2nd. ed. 1952. (Google Books)
    • Utuy Tatang Sontani, 1951, Orang-Orang Sial. B.P. 1847. 119 pp. 2nd ed. Ban-dung 1963, with an additional story.
    • Utuy Tatang Sontani, 1952, Awal dan Mira. Drama satu babak. B.P. 1887. (Earlier in Indonesia 2, 1951, p. 79-102).
    • Utuy Tatang Sontani, 1953, Manusia Iseng (drama satu babak). Indonesia 4.8/9, p. 473-87.
    • Utuy Tatang Sontani, 1953, Sangkuriang Indonesia 4.10, p. 594-601. Dajang Sumbi (drama 3 babak).
    • Utuy Tatang Sontani, 1954, Sajang ada Orang Lain (drama satu babak). Indo-nesia 5.5/6, p. 261-80.
    • Utuy Tatang Sontani, 1955, Dilangit Ada Bintang (Drama satu babak). Indo-nesia 6.2, p. 61-75.
    • Utuy Tatang Sontani, 1955, Sang Kuriang. Seni 1, 11 and 12, p. 483-511 and 531-542.
    • Utuy Tatang Sontani, 1957, Saat jang Genting (drama satu babak). Indonesia 8.3, p. 133-44.
    • Utuy Tatang Sontani, 1963, Selamat Djalan, Anak Kafur (sandiwara satu babak). Bukittinggi-Djakarta. 59 pp. (Two stories, publ. earlier in Indonesia 7.8 and 8.3.)
    • Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Sapar. Sebuah novelette tentang kehidupan pe-narik betjak di Djakarta. Djakarta. 48 pp. (Internet Archive)
    • Utuy Tatang Sontani, 1964, Si Kampeng. Djakarta. 36 pp.
    • Wikipedia Contributors. (2026, July 26). Utuy Tatang Sontani. Wikimedia Foundation. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Utuy_Tatang_Sontani

    Rate this:

    #books #Cerpen #Decolonization #History #Indonesia #inspiration #life #Literature #Netherlands #renungan #Revolution #Sastra #ShortStory #UtuyTatangSontani #WorldWarII #Writers #Writing
  13. What To Watch On YouTube Right Now – Part 149

    Welcome back my readers, YouTube viewers and all others who followed this series of articles focused on YouTube videos worth watching.

    Have you been searching for something fun or interesting to watch on YouTube? Do you feel bored right now and you crave for something to see on the world’s most popular online video destination?

    I recommend you check out the following videos I found.

    #1 A Look At The Johnson County War – If you have seen the 1980 movie Heaven’s Gate, then you have been exposed to the Johnson County War which was a ranger war in the state of Wyoming that happened from 1889 to 1893. What the movie showed, however, was a historical fiction presentation and it could not be taken seriously as a reference of American history. To learn about the Johnson County War with historical attention, watch the video below.

    https://youtu.be/6oDaH-AR8Bs?si=MY4ra5B8zRR90jWr

    #2 Popcorn in Bed Reacts To U-571 – Speaking of historical fiction, have you seen the movie U-571? When that movie was released in 2000, it only reminded me of other submarine movies like Das Boot, The Hunt For Red October and Crimson Tide. The movie directed by Jonathan Mostow and starring Matthew McConaughey made a lot of buzz when it opened at #1 in the American box office and that success influenced a lot of moviegoers here in the Philippines to watch it in local cinemas. I never saw U-571 but I noticed how much of an impact it had on Popcorn in Bed’s reaction video which I encourage you to watch.

    https://youtu.be/S94niicK8Xw?si=T3xWWokhyEcwyGdl

    #3 Japan Pushes Back Against Islam – There is a disturbing trend that has been happening in Japan that their local media and the international news organizations are not telling you…the Islamic foreigners there have been causing a series of disturbances such as occupying public spaces for Muslim prayers/gatherings, littering, rape, the construction of an illegal mosque and more. That said, there are lots of Japanese nationalists and concerned citizens who are fighting back and expressing demands and complaints to their government officials. It is clear that the Muslim foreigners there in Japan have this collective mindset of conquering Japan, violating the Japanese and gaining power under the guise of multiculturalism and political correctness. Watch the videos below.

    https://youtu.be/cy8FrqfmtcI?si=Vv0Oco_VQV7Py3D-

    https://youtu.be/rYaPdERFf7I?si=Q0lkfUbm7MXuxs2F

    #4 The Relevance Of The 1990s – Remember how unique the 1990s was when it comes to the evolution of technology, the marketing of products, the gradual transformation of pop culture in America and the like? There was indeed something special about the said decade which explains the driving force behind the Millennials’ nostalgia about it. To find out more, watch the video below.

    https://youtu.be/gROvtZw0mz0?si=yLrvmcAvGRBu-P2V

    #5 When Hollywood Released Two Similar Movies In 1998 – Way back in 1998, moviegoers worldwide saw two movies from Hollywood that had similar concepts about the world getting hit by something from deep space. The movies were Deep Impact and Armageddon, and they were released in the same summer box office season in America. Deep Impact was more dramatic and tried hard to be believable while Armageddon was highly exaggerated and had Michael Bay’s flair all over it. The two films were released at a time when disaster movies had a resurgence and they used computer-generated images to make realize their respective visual concepts. I find an analytical video about the two 1998 movies and I encourage you all to watch it.

    https://youtu.be/5T6NMEdu70k?si=TnFON8N9JbI189RA

    #6 You, Me And The Movies React To Ghost In The Shell (1995) – There are many reasons why the 1995 anime feature film Ghost in the Shell is very significant. The adaptation of Masamune Shirow’s literary Ghost in the Shell was made with very high production values under the direction of Mamoru Oshii, the story had many futuristic concepts that became very relevant today, and it was very influential for many Hollywood filmmakers. That said, I liked how the anime feature film drew reactions from You, Me and the Movies, and their reaction video is a must-see!

    https://youtu.be/4Q_G6zObECg?si=CEgIjpaJl0WlbI64

    #7 Casablanca Reaction Video Of EOM Reacts – There is nothing like watching a classic, black-and-white movie like Casablanca. Set in French Morocco, the story follows many characters dealing with the uncertainty of war and it is inside the nightclub and gambling den of American expatriate Rick Blaine where a lot of developments happened. The 1942 movie is memorable with its top-notch stars (Humphrey Bogart and Ingrid Bergman are phenomenal), the dramatic plot, the immersive settings and many iconic lines and moments. I have seen the movie a few times already on 4K Blu-ray format and I enjoyed watching EOM Reacts’ video of it. Go watch his video below.

    https://youtu.be/CmFvCTl43Nk?si=sAuN1cotXMpNsnvd

    #8 Soba Getting Reinvented In Japan – Soba – a Japanese noodle made from buckwheat flour – is getting reinvented in Japan as the traditional shops there are struggling with the rising costs of ingredients as well as a growing shortage of successors to the operators. In an effort to stay in business while avoiding raising prices, the surviving soba restaurants (and some new ones) there are reinventing the dining experience and doing other things to preserve the traditional soba culture. Watch and learn from the video below.

    https://youtu.be/6SL5yzs5-o4?si=yPucu2ALaUy_h2-a

    #9 Ranting For Vengeance Slams Zach Cregger And His Resident Evil Movie – As some of you already know, there is another new live-action movie of Resident Evil coming out soon and the early previews showed very little connections with the Resident Evil games of Capcom. Actor Zach Cregger is the director and co-writer of the new Resident Evil movie and Ranting for Vengeance slammed him hard in his recent YouTube video. Not only that, the YouTuber also backed up his criticism on Cregger and the 2026 Resident Evil movie with facts and details that you have to see. That said, go watch his video below and pay close attention to the details.

    https://youtu.be/R5ALrwYsd78?si=WN0icx4lPk9UNTp8

    #10 Atari Jaguar CD Revisited – While I played a lot of games of Atari (both on Atari 2600 console and arcade games) in my life, I never owned an Atari Jaguar nor its CD-ROM add-on device. Indeed, there was a time in the 1990s when Atari got back in console gaming starting with the Jaguar console that operated with games in cartridge format. A short time later, the add-on Atari Jaguar CD was released and it looked like a toilet with the lid open. To learn more about the Atari Jaguar CD, watch the retro gaming video below.

    https://youtu.be/6gjSJxpB6PE?si=0hem72Z9VqnwjwDw

    +++++

    Thank you for reading. If you find this article engaging, please click the like button below, share this article to others and also please consider making a donation to support my publishing. If you are looking for a copywriter to create content for your special project or business, check out my services and my portfolio. Feel free to contact me with a private message. Also please feel free to visit my Facebook page Author Carlo Carrasco and follow me on Twitter at @CarloCarrascoPH as well as on Tumblr at https://carlocarrasco.tumblr.com/ and on Instagram athttps://www.instagram.com/authorcarlocarrasco

    #1980s #1990s #action #AmericanHistory #amusement #anime #Arab #Armageddon #ASEAN #AshleighBurton #Asia #AssociationOfSoutheastAsianNationsASEAN #Atari #AtariJaguar #AtariJaguarCD #Bangladesh #buckwheatFlour #Capcom #CarloCarrasco #Casablanca #CDROM #ChatGPT #ChristopherWalken #cinema #comets #compactDiscCD #CrimsonTide #DasBoot #DeepImpact #Democrats #disaster #disasterMovies #entertainment #entertainmentBlog #EOMReacts #Facebook #film #food #foodTourism #foodie #foreignTourists #FrenchMorocco #fun #gay #geek #GhostInTheShell #GhostInTheShell1995 #Google #GoogleSearch #HeavenSGate #historicalEpic #history #holiday #homosexual #homosexuality #homosexualityIsASin #horror #HumphreyBogart #illegalAliens #illegalImmigrants #illegalImmigration #immigrants #immigration #Inclusion #IngridBergman #Instagram #Iran #IsabelleHuppert #Islam #IslamicTerrorism #IslamicTerrorists #Islamist #IslamoLeft #Japan #JapaneseFood #JapaneseNoodles #JeffBridges #JohnsonCountyWar #JonathanMostow #KrisKristofferson #lesbian #LGBT #LGBTQ #LGBTQIA #Maldives #MasamuneShirow #massMigration #MatthewMcConaughey #meals #meteors #MichaelBay #MichaelCimino #migrants #Millennials #Morocco #movies #Muslim #MuslimImmigrants #mustSee #mustWatch #Nippon #NipponTV #noodles #nostalgia #onlineVideos #Pakistan #Philippines #politics #PopcornInBed #RantingForVengeance #Republicans #ResidentEvil #ResidentEvil2026 #RetroGaming #Reviews #SatanicDemocrats #sciFi #scienceFiction #soba #socialMedia #submarine #terrorism #terrorists #The1980s #The1990s #TheDeerHunter #TheHuntForRedOctober #tourism #tourismBlog #tourists #transgender #travel #travelBlog #Tumblr #Turkey #Twitter #U571 #UnitedStates #UnitedStatesOfAmericaUSA #USA #vacation #video #videoBlog #videoGames #videos #war #WhatToWatchOnYouTube #woke #WordPress #WordPressCom #WorldWarII #Wyoming #YouMeAndTheMovies #YouTube #YouTuber #YouTubers #ZachCregger #zombieApocalypse #zombies
  14. Spirituality & Religious Studies @spiritualityreligiousstudies.wordpress.com@spiritualityreligiousstudies.wordpress.com ·

    Ashkenazi Jews

    Author’s Note: This post has mentions of Nazis, the Holocaust, & Nazi Germany. We completely understand if you wish to skip over this post. We’ll catch you in the next one!

    Also known as Ashkenazic Jews, Ashkenazis, or Ashkenazim.

    This is a form of distinct ethnic subdivision of the Jewish Diaspora. Emerging from the Jewish communities that consolidated during the 10th century in the Rhineland (Western Germany) & northern France. They migrated there from centers such as the Italian peninsula & the Southern Levant. This includes present-day Lebanon, Israel, Palestine, & Jordan.

    After numerous massacres of Jews during the Crusades (11th-13th centuries), they began a gradual eastward migration due to mounting restrictions within the Holy Roman Empire & the favorable policies of Casimir the Great & others.

    This diaspora ramped up after the persecution during the Black Death of the 14th century. The bulk of the Ashkenazi Jews had migrated to the Kingdom of Poland (which includes modern-day Poland, Lithuania, Belarus, Ukraine, & parts of Russia). This area became the main center of Ashkenazi Jewry until the Holocaust.

    Ashkenazim adapted their traditions, rites, & customs to Europe. They traditionally followed the German rite synagogue ritual & until the Holocaust primarily spoke Yiddish, an offshoot of Middle High German written in a variety of the Hebrew script, with significant Hebrew, Aramaic, & Slavic influences.

    The Yiddish language progressively declined in prestige, in favor of national languages & Hebrew, being stigmatized by assimilationists & later also Zionists. Though it was spoken by over 11 million people worldwide before the Holocaust. The Yiddishist movement, which sought to preserve & revive the language, faded through the 20th century. Including Duolingo adding Yiddish as a language.

    As a proportion of the world Jewish population, Ashkenazim were estimated to be 3% in the 11th century, rising to 92% in 1930, near the population’s peak. The Ashkenazi population was significantly diminished by the Holocaust carried out by Nazi Germany during WWII, which killed around 6 million Jews. Before WWII, the estimated worldwide Jewish population was 15.3-16.7 million, with 92% being Ashkenazi. As of 2023, the population of Ashkenazim was estimated to be around 10-13 million out of 15.8 million total Jews.

    The name Ashkenazi comes from the biblical figure of Ashkenaz. He’s the 1st son of Gomer, grandson of Japhet, great-grandson of Noah, & a Japhetic patriarch in the Table of Nations. The name for Gomer has often been linked to the Cimmerians.

    The Biblical Ashkenazis are usually derived from Assyrian Askuza, a people who expelled the Cimmerians from the Armenian area of the Upper Euphrates. The name Askuza is identified with the Scythians.

    In Jeremiah 51:27, Ashkenaz figures as 1 of 3 kingdoms in the far north, the others being Minni (or Mannaea), an ancient kingdom that flourished in northwestern Iran, & Arrat (corresponding to Urartu), called on by God to resist Babylon.

    Ashkenaz is linked to Scandza/Scanzia (usually identified with Scandinavia), viewed as the cradle of Germanic tribes, in the 6th-century gloss to the Historia Ecclesiastica of Eusebius. In the 10th century, in the History of Armenia of Yovhannes Drasxanakertci, Ashkenaz was associated with Armenia.

    As it was occasionally in Jewish usage, where its denotation extended at times to Adiabene, Khazaria, Chimea, & areas to the east. They’re also identified with the Slavim or Slavs. In keeping with the custom of designating areas of Jewish settlement with biblical names, Spain was called Sefarad (Obadiah 20), France was called Tsarefat (I Kings 17:9), & Bohemia was called the Land of Canaan.

    Given the close links between the Jewish communities of France & Germany following the Carolingian unification, the term Ashkenazi came to refer to the Jews of both medieval Germany & France.

    In later times, the word Ashkenaz is used to designate southern & western Germany, the ritual of which sections differs somewhat from that of eastern Germany & Poland. Thus, the prayer book of Isaiah Horowitz (a prominent rabbi & mystic), & many others, give the piyyutim (a Jewish liturgical poem), according to the Minhag of Ashkenaz & Poland. A Minhag is an accepted tradition or group of traditions in Judaism.

    In a religious sense, an Ashkenazi Jew is any Jew whose family tradition & synagogue ritual follow Ashkenazi practices (German rite). Until the Ashkenazi community 1st began to develop in the Early Middle Ages, the centers of Jewish religious authority were in the Islamic world, at Baghdad & Islamic Spain. German Ashkenaz was so geographically distant that it developed a minhag of its own.

    The counterpart of Ashkenazi is Sephardic. Since most non-Ashkenazi Orthodox Jews follow Sephardic rabbinical authorities, whether or not they’re ethnically Sephardic. By tradition, a Sephardic or Mizrahi (a.k.a. Oriental Jews; Jews who lived in the Muslim world) who married into an Orthodox or Haredi (a.k.a. ultra-Orthodox) Ashkenazi Jewish family raises her kids to be Ashkenazi Jews.

    On the other hand, an Ashkenazi woman who married a Sephardi or Mizrahi is expected to take on Sephardic practices & the kids will “inherit” a Sephardic identity. Though in practice, many families do compromise. A “convert” usually follows the practice of the rabbinical court (beth din) that converted them.

    Culturally, an Ashkenazi Jew can be identified by the concept of Yiddishkeit, which means “Jewishness” in the Yiddish language. Before the Haskalah (a.k.a. the Jewish Enlightenment) & the emancipation of Jews in Europe, this meant the study of the Torah & the Talmud for men, & communal life governed by the observance of Jewish Law for men & women.

    From the Rhineland to Riga (the largest city in Latvia) to Romania, most Jews prayed in liturgical Ashkenazi Hebrew, & spoke Yiddish in their secular (worldly) lives. But with modernization, Yiddishkeit now includes not just Orthodoxy & Hasidism, but a broader range of movements, ideologies, practices, & traditions in which Ashkenazi have participated & somehow kept a sense of Jewishness. Although pockets of Jews still speak Yiddish, Yiddishkeit can be identified in manners of speech, styles of humor, & in patterns of association.

    As Ashkenazi Jews moved away from Europe, mostly in the form of aliyah to Israel. Or immigration to North America, South Africa, Europe (particularly France), & Latin America, the geographic isolation has given way to mixing with other cultures, & with non-Ashkenazi Jews who, similarly, are no longer isolated in distinct geographic locales.

    Hebrew has replaced Yiddish as the primary Jewish language for many Ashkenazi Jews. Although many Hasidic & Hareidi groups still use Yiddish in daily life. Aliyah is the immigration of Jews from the diaspora to, historically, the geographic Land of Israel or the Palestine region, where the State of Israel was established.

    France’s blended Jewish community is typical of the cultural recombination that’s going on among Jews throughout the world. Although France expelled its original Jewish population in the Middle Ages, by the time of the French Revolution, there were 2 distinct Jewish populations.

    One consisted of Sephardic Jews, originally refugees from the Inquisition (which no one expects! Sorry, we’re Monty Python fans here.) & concentrated in the southwest. While the other community was Ashkenazi, concentrated in formerly German Alsace, & mainly speaking a German dialect similar to Yiddish.

    The 3rd community of Provencal Jews living in Comtat Venaissin was technically outside France, & was later absorbed into the Sephardim. Comtat Venaissin (called Comtat, for short) was a part of the Papal States from 1274 to 1791.

    But after emancipation, a sense of a unified French Jewry emerged, especially when France was wracked by the Dreyfus Affair in the 1890s. (We’ll be doing a post about the Dreyfus Affair.) In the 1920s & 30s, Ashkenazi Jews from Europe arrived in large numbers as refugees from antisemitism, the Russian Revolution, & the economic turmoil of the Great Depression.

    By the 1930s, Paris had a vibrant Yiddish culture, & many Jews were involved in diverse political movements. After the Vichy years & the Holocaust, the French Jewish population was augmented once again, 1st by Ashkenazi refugees from Central Europe, & later by Sephardi immigrants & refugees from North Africa, many of them francophone. Francophone refers to people/organizations who use French (language) regularly.

    Ashkenazi Jews didn’t transmit their traditions or achievements by text. Instead, these traditions were passed down orally from one generation to the next. The desire to maintain pre-Holocaust traditions relating to Ashkenazi culture has often been met with criticism by Jews in Eastern Europe.

    In an ethnic sense, an Ashkenazi Jew is a descendant of the Jews who settled in the Central European region of “Ashkenaz.” For roughly 1,000 years, the Ashkenazim were a reproductively isolated population in Europe.

    Despite living in many countries, with little inflow or outflow of countries from migration, conversion, or intermarriage with other groups, including other Jews. Since the mid-20th century, many Ashkenazi Jews have intermarried, both with members of other Jewish communities & non-Jews.

    Religious persecution of the Jews in Western & Central Europe led to a significant migration of the Ashkenazi Jews into Eastern Europe. This resulted in a major cultural divide between Western/Central & Eastern Ashkenazi communities. In particular, this was reflected in the division of Yiddish into Western & Eastern Yiddish dialects. As well as in other cultural distinctions: traditions, food, dress, etc.

    Initially, the Jews of Eastern Europe enjoyed relative freedom in terms of movement, being invited by the kings of the Polish-Lithuanian Commonwealth. Over time, the situation was reversed. By the 19th century, the Jews in the West had gradually been integrated into the general society.

    While the Eastern Ashkenazi maintained their strict Jewish traditions & were mostly confined to ghettos, especially in the Pale of Settlement of the Russian Empire, which incorporated a considerable amount of land where the Eastern Ashkenazi lived: Poland & Lithuania.

    Well-known differences in practices include:

    • Observance of Passover (Pesach)
      • Ashkenazi Jews traditionally refrain from eating legumes, grain, millet, & rice. Quinoa has become accepted as a food grain in North American communities. Sephardi Jews typically don’t prohibit these foods.
    • Notwithstanding stricter requirements for the ACTUAL slaughter, Sephardi Jews permit the rear portions of an animal after proper Halakhic removal of the sciatic nerve. While many Ashkenazi Jews don’t.
    • Ashkenazi Jews often name newborns after deceased family members, not after living relatives. Sephardi Jews often name their kids after their grandparents, even if those grandparents are still living. An exception to this is among Dutch Jews, where Ashkenazi for centuries used naming conventions otherwise attributed exclusively to Sephardim, such as Chuts. Chuts is the name given to Jews who immigrated to London from the Netherlands in the 1850s-1860s.
    • Ashkenazi tefillins are wound toward the body, not away from it. Ashkenazim put on the tefillin while standing up. Other Jews generally do so while sitting down. A tefillin(s) is/are sets of small black leather boxes with leather straps having scrolls of parchment written with verses of the Torah inside.
    • The prayer shawl (tallit/tallis) is worn by all Ashkenazi men AFTER marriage. Except for Western European Ashkenazi men who wear it from the bar mitzvah. In Sephardi or Mizrahi Judaism, the prayer shawl is commonly worn from early childhood.

    The term Ashkenazi also refers to the Nusach Ashkenaz, the liturgical tradition used by Ashkenazi Jews in their siddur (prayer book). A nusach is defined by a liturgical tradition’s choice of prayers, the text of prayers & melodies used in the singing of prayers. 2 other major forms of nusach among Ashkenazi Jews are Nusach Sefard (not to be confused with the Sephardic ritual), which is the general Polish Hasidic nusach, and Nusach Ari, used by those in Chabad.

    Make a one-time donation

    Your contribution is appreciated.

    Donate

    Make a monthly donation

    Your contribution is appreciated.

    Donate monthly

    Make a yearly donation

    Your contribution is appreciated.

    Donate yearly

    Rate this:

    #10thCentury #11thCentury #1274 #13thCentury #14thCentury #1790 #1791 #1850s #1860s #1890s #1920s #1930 #1930s #19thCentury #20thCentury #21stCentury #6thCentury #Adiabene #Aliyah #Aramaic #Armenia #Arrat #AshkenaziJews #Ashkenazim #Askuza #Assyrian #Babylon #Belarus #BethDin #BlackDeath #Bohemia #Canaan #Carolingian #CasmirTheGreat #CentalEurope #CentralEurope #Chabad #Chimea #Chuts #Cimmerians #Comtat #ComtatVenaissin #Crusades #DreyfusAffair #Duolingo #EarlyMiddleAges #EasternEurope #Europe #Eusebius #France #GermanAlsace #GermanRite #Germany #Gomer #GreatDepression #Halakic #Haredi #Hasidism #Haskalah #Hebrew #HistoriaEcclesiastica #HistoryOfArmenia #Holocaust #HolyRomanEmpire #IKings179 #IsaiahHorowitz #Islam #Israel #ItalianPeninsula #Japhet #Jeremiah5127 #JewishDiaspora #JewishEnlightenment #JewishLaw #Jordan #Judaism #Khazaria #KingdomOfPoland #LatinAmerica #Lebanon #Levant #Lithuania #London #Mannaea #MiddleAges #MiddleHighGerman #Minhag #Minni #Mizrahi #Muslim #Netherlands #Noah #NorthAfrica #NorthAmerica #NorthernFrance #NorthwesternIran #NusachSefard #OrientalJews #Orthodox #PaleOfSettlement #Palestine #PapalStates #Paris #Passover #Pesach #Piyyutim #Poland #PolishLithuanianCommonwealth #prayerBook #PrayerShawl #Provencal #Rhineland #Riga #Romania #Russia #RussianEmpire #RussianRevolution #Scandinavia #Scythians #Sefarad #Sephardic #Siddur #Slavic #SouthAfrica #SouthernLevant #Spain #StateOfIsrael #synagogue #TableOfNations #Tallis #Tallit #Talmud #Tefillins #Torah #Tsarefat #Ukraine #UltraOrthodox #UpperEuphrates #Vichy #WesternGermany #WorldWarII #Yiddish #Yiddishkeit #YovhannesDrasxanakertci #Zionists
  15. "One of the biggest traumas that people had in the #Bershad #ghetto was that no one would notice the death,” #Shternshis told the #Jewish Telegraphic Agency. “So the #song that did talk about the lack of empathy, but also talked about the funeral, was actually a fantasy that all these things would happen — a prayer, a grave.”

    This is Shternshis’ second “#Yiddish Glory” #album aiming to resurrect #music from witnesses of the #Holocaust in the #SovietUnion. Her first album in 2018, titled “#YiddishGlory: The Lost #Songs of #WorldWarII,” was nominated for a #Grammy.

    That project was the first she reaped from the discovery of #Beregovsky’s documents, and it focused largely on songs collected from #Russian soldiers who fought against the #Nazis. The “Silenced Songs” album centers almost entirely on #Jews who lived in the #ghettos and #concentrationcamps of #Ukraine’s #Vinnytsia region, which was occupied by #Romania and #Nazi #Germany from 1941 to 1944."

    jta.org/2026/07/17/culture/los

  16. What To Watch On YouTube Right Now – Part 145

    Welcome back my readers, YouTube viewers and all others who followed this series of articles focused on YouTube videos worth watching.

    Have you been searching for something fun or interesting to watch on YouTube? Do you feel bored right now and you crave for something to see on the world’s most popular online video destination?

    I recommend you check out the following videos I found.

    #1 Street Fighter III: New Generation Revisited – Way back in 1994, I had a blast of fun playing Super Street Fighter II: The New Challengers on the Super Nintendo Entertainment System (SNES) plus other Street Fighter II games in the arcades. Naturally, I had a personal anticipation for Street Fighter III. However, Capcom released Street Fighter Alpha (Street Fighter Zero) and follow-up games over the next few years. In the 1st quarter of 1997, I saw Street Fighter III: New Generation in the local arcade and quickly inserted tokens to play it. I was very impressed with its super-smooth animation and enjoyed it. Still, something about the game felt hollow and weird as well which is related to the fact that Ryu and Ken were the only established Street Fighter characters who returned. Indeed, there was something odd that happened behind the scenes at Capcom when Street Fighter III: New Generation was made. Watch and learn from the videos below.

    https://youtu.be/L-SzM8xqzZw?si=cCVk5NShDVxX5J_E

    https://youtu.be/tvFUkk-3sCI?si=7lrhELujY7SXh_J4

    #2 EOM Reacts’ Saving Private Ryan Video – Twenty-eight years ago, Steven Spielberg’s Saving Private Ryan was released in cinemas and eventually achieved both critical and commercial success. While its story was not true to life nor a solid record of World War II history, its presentation of the extreme violence of the era and American brotherhood captivated a lot of moviegoers. To find out how much impact the movie has on anyone who views it, watch EOM React’s reaction video below.

    https://youtu.be/l5qvVrC9nhA?si=P3egjL2Ic2TK6sYd

    #3 Farm-Raised Eels Launched In Japan – In Japanese cuisine, eels are a popular delicacy and they make a great choice of meat to consume with rice. Due to the sharp decline of eels at sea, farms that spent a lot of time and resources of breeding eels provided the alternative for Japanese demand. That said, farm-raised eels were commercially launched recently for public consumption and you can learn so much more about them in the Nippon TV video below.

    https://youtu.be/-_KokIB9pYw?si=2flFfbep9yQJRmpW

    #4 Shenmue Retrospective – Shenmue, the most defining game ever released on the short-lived Sega Dreamcast, has long been featured in countless articles and retrospective videos over the past twenty-six years. Under the leadership and design of the legendary Yu Suzuki, Shenmue turned out to be a very groundbreaking video game when it comes to exploration, adventuring and interactions with characters (including non-playable characters or NPCs) and items. Now is a good time to look back at Shenmue with the in-depth retrospective video below. Viewing it felt like an adventure.

    https://youtu.be/vgP4h-iFlUw?si=JppH2tQ13uh9yGZ1

    #5 You, Me And The Movies React To The Philadelphia Story – When was the last time you saw a romantic comedy film released in the 1940s? The 1940 movie The Philadelphia Story is notable not only because it was nominated for several Academy Awards (it won two) but also because it was the successful comeback of actress Katharine Hepburn who had several failures. To find out if The Philadelphia Story is truly impactful and worthy of preservation in the United States National Film Registry, go watch You, Me and the Movies’ reaction video below.

    https://youtu.be/WHzYcZAkiUQ?si=GdXfYWNA5M8hQFKe

    #6 Ashleigh Burton Reacts To Lethal Weapon 4 – What is there to say about 1998’s Lethal Weapon 4? It is the one film that has Asian superstar Jet Li as the action-packed villain. In addition, it marked significant changes in the respective lives of Martin Riggs (Mel Gibson) and Roger Murtaugh (Danny Glover) when it comes to family matters and getting old as law enforcers. I can hardly believe it has been twenty-eight years since I first saw this movie in the local cinema and it was indeed a thrilling viewing experience. To see if it still has any entertainment value and impact, watch and learn from Ashleigh Burton’s reaction video below.

    https://youtu.be/aruSpkxOeMQ?si=ObpagaUU0UijyRlH

    #7 The 2003 California Recall Election Revisited – Decades after former actor Ronald Reagan led the state of California as its governor, another actor got elected to the same position via a recall election…Arnold Schwarzenegger! Back in 2003, the incumbent governor Gray Davis was very unpopular and a lot of Californians got fed up with the many problems that affected them. When the move to recall Davis grew tremendously, several people filed their candidacies for Governor of California but it was Schwarzenegger who outmaneuvered them. Given the fact that he starred in three Terminator movies – all of which were filmed in California – he would later be called as “the Governator” after taking office. To find out what really happened and what the factors were behind his recall election victory, watch the in-depth video below.

    https://youtu.be/slZSl5ufmXk?si=aUkZMJaozvMaRAGm

    #8 The Remake Trend Of Video Games – Like Hollywood, the video game industry has an obsession with remaking video games. The difference is this…the obsession on remaking video games is pretty strong as video game publishers need something “new” to sell to gamers while their other game projects could not be completed fast enough. Still, there is something twisted or intriguing behind the game companies’ focus on remaking games and you can find out more by watching the video below.

    https://youtu.be/AO90OiaPNBk?si=xMHQTGLd73_fZwX4

    +++++

    Thank you for reading. If you find this article engaging, please click the like button below, share this article to others and also please consider making a donation to support my publishing. If you are looking for a copywriter to create content for your special project or business, check out my services and my portfolio. Feel free to contact me with a private message. Also please feel free to visit my Facebook page Author Carlo Carrasco and follow me on Twitter at @CarloCarrascoPH as well as on Tumblr at https://carlocarrasco.tumblr.com/ and on Instagram athttps://www.instagram.com/authorcarlocarrasco

    #1940s #1990s #2DGames #AcademyAwards #America #AmericanPatriotism #amusement #anime #ArnoldSchwarzenegger #AshleighBurton #Asia #breakfast #California #Capcom #CarloCarrasco #ChatGPT #cinema #DannyGlover #Democrats #eels #elections #entertainment #entertainmentBlog #EOMReacts #Facebook #farm #farming #fightingGames #film #food #foodTourism #foodie #fun #geek #Google #GoogleSearch #Governator #GrayDavis #history #holiday #horror #Inclusion #Instagram #Japan #JetLi #KatharineHepburn #Ken #LethalWeapon4 #martialArts #meals #MelGibson #military #militaryLifestyle #movies #mustSee #mustWatch #Nintendo #Nippon #NipponTV #nostalgia #onlineVideos #patriotism #recall #Republicans #Reviews #RonaldReagan #Ryu #SavingPrivateRyan #sciFi #scienceFiction #Sega #SegaDreamcast #Shenmue #SNES #socialMedia #soldiers #StevenSpielberg #StreetFighter #StreetFighterAlpha #StreetFighterII #StreetFighterIIINewGeneration #StreetFighterZero #SuperNES #SuperNintendoEntertainmentSystemSNES #SuperStreetFighterIITheNewChallengers #Terminator #Terminator3RiseOfTheMachines #The1940s #The1990s #ThePhiladelphiaStory #TheTerminator #tourism #tourismBlog #tourists #travel #travelBlog #Tumblr #Twitter #UnitedStates #UnitedStatesOfAmericaUSA #USA #vacation #video #videoBlog #videoGames #videos #war #warMovie #WhatToWatchOnYouTube #WordPress #WordPressCom #WorldWarII #YouMeAndTheMovies #YouTube #YouTuber #YouTubers #YuSuzuki
  17. Cerpen: Tailalat Karya Pramoedya Ananta Toer

    Tailalat

    Cerita Pendek Karya Pramoedya Ananta Toer (1996)

    (Cerita ulang tahun untuk sahabat Bob Hering.)

    Ada sidik jari, tapi jarang disebut tentang sidik wajah. Dan tailalat tak lain dari bagian sidik muka. Yang akan kuceritakan padamu bukan tailalat tunggal, tapi kembar, simetrik mengapit batang hidung. Dan itulah satu-satunya yang pernah kulihat dalam hidupku. Awal tahun 1946. Sebagai pembantu-letnan aku mendapat perintah mengerahkan seksiku menyambut kedatangan serombongan tamu. Di stasiun Cikampek. Hari, tanggal, dan bulan, sudah tak dapat kuingat, setidak-tidaknya sekitar jam 10 pagi.

    Kereta api dari Jakarta masuk. Tak ada rombongan tamu yang turun berbondong dari kereta api. Penumpang-penumpang lain turun dan segera meninggalkan peron. Seorang-dua turun, berdiri tenang-tenang di samping gerbong. Salah seorang kudekati. Nah, itulah, tailalat kembar mengapit batang hidungnya, hidung pribumi asli.

    “Dari Jakarta, Pak?” Ia hanya tersenyum manis. “Mau ke
    mana?”

    “Yogya.”

    “Dalam rombongan?”

    “Tidak salah.”

    “Tujuan?” ia awasi senjata api pada pinggangku, mengangguk-angguk, kemudian menepuk-nepuk punggungku.

    “Indah ya, sangat indah, usia muda, semua bisa menangani,” ia mengangguk-angguk ria, “bagus, teruskan apa yang telah kami gagal melakukan. Dulu.”

    “Apa yang telah gagal Bapak lakukan?”

    “Berontak untuk merdeka. Dan kalian, anak-anak muda, sudah bikin tanah air ini merdeka. Tinggal mempertahankan dan mengisinya.”

    Mendadak ia menyerang aku dengan pelukan dan ciuman. Keramahannya lenyap. Kurasai air mata menetesi wajahku. Peluit kepala setasiun mengatasi suara hiruk-pikuk setasiun.

    “Kami dari rombongan Digulis, dari Australia. Selamat, nak, selamat, kita akan bertemu di tempat lain.”

    Ia ciumi lagi aku. Menepuk bahuku, dan melompat naik ke dalam gerbong. Kereta berangkat. Belum lagi sempat kuketahui namanya… Kembali ke markas resimen kulaporkan, tugas telah selesai kulakukan. Mayorku bangkit dari kursi, melotot, hanya tidak membentak:

    “Goblok. Tugas segampang itu tidak mampu kau lakukan. Belajar kau menghargai para pejuang. Selesai!”

    Setelah memberi hormat dan balik-kanan-jalan terdengar bentakan dalam diriku sendiri: Goblok! Sebelumnya tak kau katakan, kan, siapa mereka? Tempat tujuan juga bukan Cikampek, kan? Yogya! Ai, bapak tailalat kembar. Dua puluh tahun telah lewat. Sekarang bukan di medan bebas, apalagi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Sekarang di rutan, rumah tahanan. Salemba di Jakarta.

    Sekali di bulan November 1966 datang rombongan tahanan baru, pindahan dari penjara Cipinang, Jakarta juga. Barang tujuh orang. Ha? Salah seorang bertailalat kembar, mengapit batang hidung. Dia? Tak semudah itu menjawab teka-teki itu. Pribadi dan rombongan baru harus menjalani kucilan. Sampai berapa hari atau minggu, itu tergantung para penguasa penjara.

    Nyatanya ia dan rombongannya mendekam di blok E, blok hukuman untuk tapol. Dari blok K, tempatku dikurung, setiap hari kulihat ia dan rombongannya digiring keluar blok E ke ruang pemeriksaan. Bila balik ke bloknya ada saja di antara mereka yang terpincang-pincang, atau dipapah, atau dengan muka lebam, atau mencekam bagian-bagian tubuh yang habis jadi landasan benda tumpul. Dan si tailalat kembar? Sekali waktu terlihat ia kembali ke blok dengan menyeret kaki kanannya. Pemandangan biasa.

    Berapa umurnya? Dalam dua puluh tahun belakangan ini memang ada sejumlah tulisan tentang Digul yang kubaca. Jadi kuperkirakan ia dibuang ke Digul dan Australia selama 13 tahun, jadi 43 usianya. Ditambah dengan 20 tahun masa kemerdekaan nasional dan ketiadaan kemerdekaan pribadi, sekarang jadi 63 tahun. Patut kalau kekuatannya tidak seutuh tahun 1946 dulu.

    Tetap tidak semudah itu menemuinya. Memang semua tapol berhimpun sewaktu apel. Barisan-barisan yang disusun menurut blok masing-masing membuat orang sulit dapat bertemu dengan orang dari blok lain. Setelah apel selesai barisan kembali ke blok masing-masing.

    Sebulan kemudian ia dipindahkan dari blok E ke blok L, bersebelahan dengan blokku. Tiga hari kemudian masih juga tak dapat aku bicara dengannya. Pada hari keempat ia meninggalkan blok L menuju ke ruang pemeriksaan. Sengaja aku tunggu ia pulang. Umur 63 tahun. Dan penganiayaan apa lagi harus ia deritakan? Ha? Ia pulang ke blok tanpa cedera. Wajahnya ceria, dan, tersenyum panjang, mata nyapu tanah. Sebelum memasuki blok ia tebarkan pandang ke seluruh dan semua blok yang mengelilingi tanah lapang penjara.

    Ha? Seorang petugas datang ke bloknya dan membawanya ke kantor pimpinan penjara. Dan sejak itu ia tak pernah kelihatan lagi. Pindah ke penjara lain? Mungkin dibebaskan karena usianya yang sudah lanjut. Mungkin…. Nyatanya tidak. Seorang tapol blok L yang dipindahkan ke blok K jadi saksi karena ia termasuk rombongan yang dipindahkan ke mari dari penjara Cipinang.

    Si tailalat kembar punya pendapat: ia tak punya kepercayaan pada daya administrasi tuan-tuan baru ini. Ia hendak menguji ketidakpercayaannya. Setelah dipindahkan ke blok L, waktu selesai apel, ia minta pada petugas supaya diinterogasi, karena, katanya, ia belum pernah diperiksa selama ini. Itu sebabnya ia keluar dari bloknya, sendirian, ke ruang permeriksaan. Di sana ia menggunakan nama lain, dan, mengaku pekerjaannya mencari beling di sampahan. (Waktu itu belum dipergunakan kata: pemulung). Ia lulus ujian: punya nama lain dan bebas.

    Setelah itu tak ada kabar-beritanya. Seluruh dan semua tapol sibuk dengan kelaparan masing-masing. Tanpa diduga ulah si tailalat membangkitkan inspirasi pada tapol-tapol muda lain. Dengan diam-diam tentu. Dan, tiga tapol muda suatu hari lolos melarikan diri. Seorang di antaranya nampaknya anak Jakarta yang tak pernah keluar dari kotanya. Ia kedapatan sedang nongkrong di pinggir jalan raya menjajakan durian dalam dua keranjang bambu. Tertangkap, dan masuk lagi ke rutan Salemba. Tentu saja setelah melewati penganiayaan. Beberapa lainnya yang dipindahkan ke penjara di Tangerang, juga melarikan diri dan tak pernah tertangkap.

    Kemudian seorang lagi melarikan diri melalui gorong-gorong. Waktu selnya diperiksa kedapatan beberapa lembar kertas bertuliskan tangan. Karena soalnya tulisan, aku yang dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Tulis apa saja maunya, perintah petugas di kantor pimpinan rutan. Ia berikan beberapa lembar kertas dan ballpoint. Aku menulis apa saja. Tulisan tegak, perintahnya. Waktu ia datang lagi perintahnya berubah: tulisan miring. Setelah itu: tulisan bebas. Dan akhirnya: cukup! Aku boleh kembali ke blok. Tidak ada apa-apa lagi. Artinya: miring, tegak, atau pun bebas, tulisan yang tertinggal di sel pelarian itu tak ada kesamaannya dengan tulisan tanganku.

    Juli 1969 tapol Salemba dipindahkan ke Nusa Kambangan. Sebulan kemudian dikapalkan ke Buru. Dalam kapal para tapol dari seluruh penjara di Jawa dapat bertemu dan berkenalan. Seorang dari Pacitan nampaknya berminat untuk berkenalan. Sidik wajahnya bukan tailalat.

    Hanya garis lurus dari ujung atas telinga sampai dagu. Bekas sayatan senjata tajam. Yang seperti itu bukan sesuatu untuk dibicarakan manusia tapolnya tuan-tuan baru.

    Setiap orang telah diberi ijasah bekas luka. Dalam masa kerjapaksa di Buru, ia menempati Unit I, aku III. Jadi hanya sekali-dua kami dapat bertemu sampai 1978 atau 9 tahun kerjapaksa. Pada tahun itu ia dibebaskan. Dan karena sidik wajahnya ia tidak memilih Pacitan sebagai tempat tinggal, tapi Jakarta.

    Tiga tahun setelah aku sendiri dibebaskan dari Buru pada 1979 akhir tanpa kuduga aku bertemu dengan teman dari Pacitan itu. Sekitar hampir jam 5 pagi. Jalan-jalan masih senyap. Yang lalu-lalang hanya sejumlah pelari pagi, termasuk tubuhku. Seorang pemulung sedang duduk di bangku beton menghadapi keranjang sampahnya. Ia tersenyum ramah waktu kudekati. Dan kata-katanya yang mengiris jantungku terdengar.

    “Maaf, untuk orang seperti aku ini tidak memerlukan lari pagi.”

    Ia harus kerja maka pembicaraan panjang membuatnya gelisah. Dan ternyata ia tinggal di ladang sampah Jalan Raya Pramuka. Sebuah kotak triplek dan seng adalah rumahnya, ditinggalinya bersama seorang kakek, juga pemulung. Hanya beberapa ratus meter dari halte bus tempat kami bercengkerama.

    “Kakek lebih siang berangkatnya. Jera digonggong dan disalaki anjing dalam kesepian subuh. Tahu apa dia bilang tentang anjing Jakarta? Kesadaran kiasnya cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari tuannya, semua para tuan.”

    “Dia bekas tapol?”

    “Ya, tapol Salemba,” katanya. Lolos pada tahun kedua, katanya.”

    “Hari libur sajalah,” kataku. Aku sodorkan uang penggantinya.

    Ia nampak agak tenang. Memang tak kutunggu ucapan terima kasihnya yang memang tak pernah ia ucapkan.

    “Ia juga dari Pacitan?”

    “Bukan, Kebumen.”

    “Siapa namanya?”

    “Namanya tidak penting. Jangan dibikin dia jadi lebih sulit lagi. Lebih dari tiga perempat hidupnya dia jadi sasaran penindasan.”

    “Kalau tertindas lebih dari tiga perempat hidupnya artinya dia bekas Digulis.”

    Ia pura-pura tidak dengar.

    “Mari sarapan di rumahku.”

    “Terima kasih banyak. Lebih baik jangan.”

    “Atau kita ke rumahmu? Kan dekat saja?”

    “Perjanjian antar kami, aku dan kakek: tidak menerima tamu siapa pun.”

    “Mengerti, mengerti. Kalian memang perlu mencurigai siapa pun.”

    “Jangankan orang-orang seperti kami. Pemuda-pemuda yang menyorong kemungkinan Proklamasi saja, di mana mereka semua sekarang? Hanya satu saja yang lolos, pernah jadi wakil presiden pula. Dan proklamatornya sendiri, bagaimana pula nasibnya?”

    Ia keluarkan uang pemberian dari saku, menghitungnya, dan separoh ia kembalikan.

    “Silakan teruskan lari pagi.”

    “Satu pertanyaan lagi: apa si kakek punya tailalat di kiri dan kanan batang hidungnya?”

    Dalam keremangan subuh nampak ia melotot, suaranya parau: “Jadi bung kenal dia? Maaf saja, lupakan pertemuan ini. Anggap tak pernah terjadi.” Ia bangkit dan pergi dengan keranjang sampah dari bambu tergantung di belakang punggung. Tepat jam 10 pagi setelah membaca koran dan menyelesaikan kerja kliping, aku bergegas setengah lari ke ladang sampah jalan raya Pramuka. Ada beberapa kotak triplek dan seng. Satu di antaranya dalam keadaan terbalik. Sikap teman Pacitan itu memberi petunjuk, kotak terbalik itulah rumahnya bersama si kakek. Mereka memang tak mau ditemui dan dikenal.

    Dia tak ingin dikenal oleh siapa pun. Baiklah. Maafkan aku. Dan tidak lebih dari sebulan kemudian lewat di depan rumahku seorang pemulung muda, dengan keranjang bambu pada punggung dan besi beton pembalik sampah pada tangan kanannya. Ia berjalan bimbang dengan pandangan menyisiri pinggiran jalan tempat parade tong dan kotak sampah pemukiman. Lain dari para pemulung lain ia berpakaian sobek-sobek dan dekil. Buru-buru aku masuk rumah, mengambil keranjang tempat pakaian bekas dan kuberikan padanya.

    “Terima kasih,” ia membungkuk dan pergi membawa keranjang tsb. Sore hari waktu aku membersihkan belakang rumah… ya ampun, keranjang beserta pakaian bekas kami tergeletak di situ. Tak pernah dalam hidupku aku menderita malu seperti ini. Malu: tak mengerti si pemulung tak membutuhkan pakaian bekas. Pakaiannya yang dekil dan sobek-sobek mungkin semacam seragam harian sebagai pemulung. Bukan karena tak punya pakaian! Betapa aku tak tahu duduk perkara sekecil itu! Tak kuat menanggung malu maka kuberitakan pengalaman ini pada seorang sahabat, seorang professor emeritus di seberang lautan. Perasaan malu itu memang mereda, namun tetap mengganggu bila teringat. Jadi, tahu apa kau sebenarnya tentang rakyatmu? Dan semua ini hanya gara-gara teman pemulung dari Pacitan itu.

    Nyatanya cerita ini belum habis sampai di sini. Seorang teman bersama temannya mengajak ke lapangan setir mobil. Temannya adalah instruktur setir mobil. Seperti biasa bicaranya tak terkendali, riuh, dengan tangan, kepala, bahkan kaki memberi tekanan pada suaranya, dan semburan percikan ludahnya menggerimisi wajah lawan-bicaranya.

    “Ayohlah,” katanya, “kalahkan traumamu. Dia cuma mobil, tak perlu ada trauma menyopir.”

    Memang pernah kuceritakan padanya, dalam bulan pertama pulang dari Buru aku mendapat mobil Datsun. Kubawa seorang instruktur untuk membiasakan menyopir. Maklum sudah puluhan tahun tak pernah pegang kemudi. Waktu Jepang menyerah, mobil bergeletakan sepanjang jalan. Siapa pun boleh ambil untuk dirinya asal punya bensin. Seorang pesakitan Cipinang dalam masa kosong kekuasaan membebaskan diri bersama yang lain-lain. Nampaknya ia bekas kriminal berat, pindahan dari penjara Kutaraja, Aceh. Sudah tak dapat kuingat namanya, juga tak kuingat bagaimana kami berkenalan. Dialah, entah bagaimana, bisa mendapatkan bensin. Sebuah Willys Cabriolet ia isi tangkinya. Mesinnya ternyata bagus.

    Mari, Bung, katanya, belajar nyetir. Kami keliling kota. Beberapa hari kemudian aku telah dapat mengendalikan kereta ajaib itu. Setelah ia yakin aku bisa mengendarainya, wut!, ia hilang tak jelas rimbanya. Dan tak pernah berjumpa lagi. Mobil itu sendiri kemudian juga hilang tak jelas rimbanya waktu kuparkir di pinggir jalan di samping rumah, salahnya bensin dalam tangkinya.

    Ini hanya cerita bahwa memang ada pengalaman menyopir padaku. Nampaknya pengalaman secuwil itu membikin aku terlalu percaya diri. Instruktur di sampingku hampir-hampir tak kugubris. Datsun berputar entah berapa puluh kali mengelilingi lapangan.

    “Sekarang mundur,” perintahnya.

    Waktu itulah kaki tak tahu diri. Yang seharusnya rem diinjaknya, justru gas yang kena. Dalam keadaan mundur kencang pantat mobil menubruk warung dan mesin mati. Wanita penjaga warung yang duduk di bangku kayu, pucat, tak bisa bicara. Seorang polisi lalu lintas, yang mengawasi lapangan, lari mendapatkan kami. Dalam keadaan terguncang aku keluar dari mobil. Juga sang instruktur.

    Dengan wajah keras ia perintahkan aku memperlihatkan surat-surat kendaraan, dan tentu saja KTP. Matanya melompat-lompat dari kertas-kertas di tangannya pada wajahku. Kemudian, kemudian sekali, mata itu ditujukan pada kakiku.

    O, bapak, katanya. Lama sudah kukenal, baru sekali bertemu orangnya. Ia angkat tangan kanannya memberi hormat. Dan sesuai dengan tradisi militer Jepang aku membungkuk membalas. Begini saja, ya pak, ganti saja
    kerugiannya. Pemilik (atau penjaga) warung itu masih duduk kaku. Maaf, bu, mari kami bawa ke rumah sakit. Ia menggeleng. Seorang lelaki datang dan menengahi. Biar aku sendiri antarkan dia ke dokter. Barangkali suaminya. Aku
    berikan kartu namaku. Ganti rugi dan ongkos dokter harap diambil pada alamat ini, kataku. Cukup, pak polisi? Kataku. Ia mengangguk. Aku salami lelaki itu dan minta maaf. Ia mengangguk. Juga kuularkan tangan pada wanita itu. Kurasai tangannya menggigil.

    Trauma nyopir itu begitu mendalamnya sehingga dalam mobil teman dan temannya aku masih tetap waswas, kalah terhadap perasaan sendiri. Tak mampu melihat kembali wanita penjaga warung yang seperti patung batu karena
    kagetnya. Sebelum mobil memasuki gerbang lapangan latihan nyopir, mobil melewati seorang pemulung. Benar, dia teman dari Pacitan dengan sidik wajahnya yang abadi. Keranjang bambu tidak lagi pada punggungnya. Ia berjalan santai menghela gerobak. Di atas tumpukan sampah, tua tanpa
    daya, kakek dengan tailalat kembarnya.

    “Stop!” kupinta pada teman. “Turun sini. Nanti aku pulang sendiri.”

    “Masih juga groggy? Trauma tak kunjung habis?”

    Tanpa menjawab aku turun, berhenti di pinggir jalan menunggu sejoli ex-tapol itu lewat. Dan matahari sudah mulai terasa terik.

    “Ai-ai,” tegurku.

    Ia berhenti. Tangan tetap memegangi boom gerobak. Dan ia tersenyum. Kakek di atas sampah dalam gerobak asyik membaca koran. Bukan teka-teki dari mana ia dapatkan kacamata. Sampah memberikan segala-galanya.

    “Sudah makan?”

    “Nanti sudah.” Nampaknya ia lebih ramah daripada dalam pertemuan di halte bus dulu. Lima kilometer dari tempat ini. Waktu hendak menegur si kakek ia melarang. “Sama sekali tak ada gunanya. Tuli sepenuh tuli.” Ia pinggirkan
    gerobaknya dan dengan sangat hati-hati menyandarkan boom gerobaknya di atas bibir jambang bunga dari beton. Kakek sama sekali tak memperhatikan kami.

    “Lalu apa yang dibacanya?”

    “Semua, kecuali iklan penawaran. Yang terpenting baginya iklan jenis lain. Bukan iklan penawaran. Iklan kematian.”

    “Ha?”

    “Jangan ganggu dia. Lihat saja. Ya, ia sedang membaca iklan kesukaannya. Perhatikan air mukanya.”

    Memang kuperhatikan. Ternyata selain berkacamata ia juga menggunakan kaca pembesar di tangan kiri. Jelas pipinya yang sudah kempot itu sedang tersenyum.

    “Tersenyum, kan? Itu tanda yang meninggal jauh lebih muda dari dirinya. Kalau dengan geleng-geleng kepala itu tanda yang mati berumur di bawah tiga puluh. Bila ia tercenung tanpa gerak wajah yang mati berumur sekitar seratus tahun.”

    “Luar biasa. Betapa kau kenali dia.”

    “Sehari-harian aku bersama dia. Berak pun aku yang mengurus.”

    Sekarang aku yang tercenung. Mataku berkaca-kaca. Betapa tinggi setia kawan anak Pacitan ini. Suaraku tersekat di tenggorokan waktu aku mencoba bertanya berapa umurnya.

    “Dua-tiga tahun lagi dia akan melewati seratus. Seperti itu, dan masih tetap jadi landasan penindasan. Hanya agar beberapa sang gelintir bisa hidup kaya, terlalu kaya, mewah dan berkuasa.”

    “Stt! “

    “Ya, begini kami. Bung memang bukan bagian dari kami.”

    Ia angkat boom gerobaknya dan meneruskan perjalanannya. Ia tak mengharapkan percakapan berlanjut. Dan ia berjalan terus tanpa menoleh. Kakek dari Kebumen masih tetap membaca koran bekas. Mereka hilang di tikungan. Tak ada guna mengikuti. Teman Pacitan itu tak ingin diketahui tempat tinggalnya. Cerita ini mestinya selesai sampai di sini. Nyatanya cerita ini belum mampu mengakhiri dirinya sendiri.

    Waktu menggelinding begitu cepatnya. Indonesia, katanya, telah setengah abad merdeka. Memang bukan kemerdekaan bagi orang-orang seperti kami, karena kami hanya batu-batu kerikil buat fondasi kemerdekaan. Tempat kami tetap dalam fondasi. Kemerdekaan itu sendiri tumbuh dan berkembang tanpa pernah mengidahkan fondasinya sendiri.

    Lima puluh tahun merdeka pun telah lewat beberapa bulan. Waktu itulah pandangku nanar menggerayangi wajah teman Pacitan, menelusuri bekas sodetan senjata tajam dari telinga sampai dagunya. Memang dia. Seongggok tubuh yang duduk menggelesot di atas lantai stasiun Kota. Ia tak mengenakan seragam pemulung yang sobek-sobek dan dekil. Bahkan rambutnya pun kelimis bersisir. Di atas lantai stasiun memang ada tong-tong sampah, tapi keranjang bambu dan gerobak sampah tidak ada. Lantai kelihatan bersih. Juga tak ada di halaman stasiun. Jadi apa sekarang kerjanya?

    Ia tak menyadari sedang aku perhatikan. Kuikuti pandangannya yang berpindah-pindah. Ternyata ia sedang memperhatikan beberapa bocah sedang bekerja menyikat sepatu para calon penumpang kereta api. Kemudian aku duduk di dekatnya di atas lantai. Ia menengok padaku dengan pandang curiga. Kaki dan tangannya disiapkannya untuk bertarung. Tiba-tiba:

    “Oh, bung!”

    “Mana gerobaknya?”

    “Biasa. Dirampas.”

    “Dirampas siapa?”

    “Siapa lagi?” Dan aku mengangguk mengerti.

    “Hanya gerobak, kan? Barang sepuluh tahun lalu kusaksikan becak dirampasi. Jerih payah bertahun orang menyisakan rejekinya untuk dapat memilikinya. Jadi rumpon di teluk Jakarta. Tanpa ganti rugi. Eh, buat apa kuungkit? Semua orang tahu.” Aku mengangguk.

    Kutebarkan pandang ke luar stasiun. Memang dia tidak menggerutut, namun nada suaranya begitu menyakitinya. Kalimat apa yang selanjutnya diucapkannya aku tak dengar. Pandangku membawaku ke masa empatpuluh delapan tahun yang lalu. Sebagai tapolnya Belanda kami membabati alang-alang sekitar stasiun ini sampai ke pelabuhan Tanjungpriok. Ke selatan sampai ke lapangan Gambir. Dan istana kolonial di Gambir itu sekarang dinamai Istana Merdeka. Waktu pandangku tertebar ke ruang dalam stasiun dengan sendirinya tergambar kembali secercah hidup tigapuluh lima tahun lalu. Dengan beberapa teman kami hendak menghadiri Konferensi Sastra Jawa di Solo. Sedang santai berdiri menunggu kereta api masuk mulutku, mulutku ini, memekik: copet! Seseorang lari sambil menarik belati, kemudian menghilang entah ke mana. Teman yang juga akan menghadiri konferensi itu menghentikan teriakanku sambil memberikan arlojiku.

    “Jadi kau masih sempat memikirkan orang-orang seperti kami?” Ia menegur.

    “Mana kakekmu?”

    “Kakek? Ia sudah tak membaca koran lagi. Juga tak naik gerobak lagi. Tak akan lagi. Sejak dua bulan lalu. Mati, bung, waktu gubuk-gubuk kami diobrak-obrak buat diubah jadi gedung pencakar langit. Dalam suasana tergusur kami, rumpun pemulung mengantarkannya ke lahatnya. Tak perlu sentimen-sentimenanlah. Orang-orang seperti kita yang paling banyak membiayai pembangunannya para hartawan dan kuasawan.”

    “Ya, biarpun nama tidak pernah masuk buku mereka.”

    “Primitif. Semakin lama semakin primitif. Primitif! Itu umpatan kakek bila menilai keadaan. Pembangunan? Jalan-jalan hanya untuk yang bermobil. Pejalan kaki pun tak berhak menggunakannya. Di tanah air sendiri. Tanpa kaki lima. Primitif, itu umpatannya. Immoral, immoral. Dia tak butuhkan tanggapan orang lain. Usia telah merampas pendengarannya. Primitif! Immoral! Dan setiap matanya menangkap jambang-jambang beton di kakilima, apa dengusnya? Jambang di kakilima… tambahan isi kantong mereka, dari kantong semua, demi untuk menghadang kita… sepertinya dia sedang berpantun. Kalau cuma begitu saja, dengusnya sepanjang jalan, puih, gampang amat jadi immoral, semakin lama semakin primitif!”

    Panjangnya omongannya kali ini membuat perhatianku pada kakek tailalat justru jadi padam.

    “Jadi, apa kegiatan bung sekarang?”

    “Lihat anak-anak penyikat dan penyemir sepatu itu?” kembali matanya gentayangan pada mereka. “Masih di jalur lama, bung, membina mereka. Mengajari mereka baca-tulis. Yang lebih penting: melindungi mereka dari ulah mafia, bocah-bocah berandalan, bocah-bocah jalanan juga, yang memeras mereka.”

    “Mereka takut pada bung?”

    “Tanda ini,” ia mengusap bekas senjata tajam pada wajahnya, “membuat mereka takut. Tanda ini mereka anggap sebagai ijasah keganasanku. Mudah bagi bung memahami dunia primitif begini, kan? Akhirnya aku ketularan kakek juga: primitif! Primitif!”

    “Nampaknya sekarang bung lebih ramah padaku.”

    “Setidak-tidaknya kakek tidak lebih terluka karena mulutku.”

    “Dia tak pernah tanya tentang buangan di Buru?”

    “Ya, waktu masih bisa dengar sedikit-sedikit. Juga kuceritakan di Buru juga ada bekas Digulis, tapol tertua, dengan hanya satu harapan: mati dan dikuburkan di Jawa. Dia termasuk rombongan pertama yang dibebaskan. Harapannya hanya separoh terpenuhi: dikuburkan di Jawa memang, tapi mati waktu kapal belum lagi merapat di Tanjungperak.”

    Di antara lalu lalang pasang-pasang kaki, lelaki dan perempuan, suling kereta dan hiruk-pikuk pekerja pengangkut barang, muncul seorang bocah. Tanpa bicara ia sodorkan dua teh botol dingin pada kami. Teman dari Pacitan itu menghapus matanya. Dan:

    “Tanpa didikan orangtua — memang dia tak punya — tanpa disuruh, sebagian rejeki pagi ia suguhkan pada kita.”

    “Nampaknya bung memang dicintai mereka,” dan nampaknya ia terharu atas pujian itu. “Memang cuma teh botol, setidak-tidaknya bung telah mulai menuai yang bung tebarkan.” Ia masih terdiam. “Jangan membisu terlalu lama. Kata-katamu tentang kakek penting bagiku. Memang cuma kata-kata, kita hanya bisa ngomong, lebih tidak. Tapi kata-kata, dengan kekuatannya yang khusus, akan mengembara dari kuping ke kuping, dan akan hidup selama-lamanya, selama ummat manusia tidak menjadi tuli semuanya. Dan biar pun tuli mendadak semua, kan masih ada pemahat, pematung, pelukis, dan pengarang, yang tanpa berucap bisa mengatakan?”

    “Kursus bung terlalu bertele.”

    “Pembisuan bung terlalu bertele.”

    Ia nikmati teh botolnya dengan pipa penyedot. Dan botolku sudah kosong.

    “Waktu ia cukup mengerti, di Buru kita dikenakan kerjapaksa sambil cari makan sendiri, kalau sakit obat-obatan pun harus beli sendiri kontan menyembur sumpah-serapahnya: primitif! primitif. Hanya otak primitif mampu buat aturan seperti itu.”

    Pustaka tentang Digul membuat kepalaku terangguk-angguk. Ya, para Digulis dijamin makannya setiap bulan. Yang sakit mendapat perawatan lebih baik daripada di Jawa. Dan asal mereka mau bekerja di ladang, mereka dapat sepuluh sen setiap jam, setara tiga kilogram beras. Yang bersedia kerja dalam mesin kolonial lebih banyak lagi dapatnya.

    “Dan tanpa pengadilan,” ia teruskan semburan kata kakek tailalat, “belasan tahun tanpa pengadilan. Semasa kolonial, tiga hari ditahan tanpa perkara jelas sudah bisa menuntut ganti rugi. Dibunuhi pula, malah tanpa ada komisi penyelidikan. Otak primitif. Diharuskan hafal Pancasila lagi. Di Digul, aparat kolonial itu menghormati pendirian dan sikap politik dan pribadi para buangan. Primitif! Primitif!”

    “Stop. Setidaknya aku sudah mulai banyak tahu tentang kakek yang tak pernah mengenalku.”

    Ia habiskan teh botol di tangannya. Dan bocah penyikat sepatu itu datang lagi mengambil botol-botol kosong.

    “Boleh aku menengok kuburan kakek?”

    “Tak usahlah. Seratus tahun, satu abad jadi landasan penindasan. Jangan, jangan ganggu dia. Kau takkan tahu tempatnya.”

    Tiba-tiba ia melompat bangun, berjalan cepat menuju ke suatu pilar stasiun. Dari gerak tangannya nampak ia sedang mengusir seorang pemuda berkuncir berseragam jean. Dan pemuda yang diusirnya tidak langsung pergi. Dari gerak tangannya nampak ia mengancam. Teman dari Pacitan itu mengangguk menerima tantangannya. Setelah lawan-bicaranya pergi baru ia kembali menghampiri.

    “Bung sendirian. Bagaimana kalau dia membawa teman-temannya?”

    “Mereka dibuat primitif oleh keadaan. Kalau toh kalah dan mati, setidak-tidaknya terhormat sebagai warga negara Indonesia.”

    Ia ulurkan tangannya memberi salam dan pergi.

    Jakarta, 10 Juli 1996

    Sumber: Tailalat, oleh Pramoedya Ananta Toer, cerita pendek 1996, kalam 10, (1997), http://sejuta-topan-badai.blogspot.com/2009/03/tailalat.html via https://archive.org/details/pramoedyaanantatoertailalat1996. Kredit foto: Traveloka https://www.traveloka.com/id-id/explore/activities/pulau-buru-ta/539651.

    Karya Sejarahwan Bob Hering

    • Hering, Bob. “Indonesian Nationalism Revisited.” Journal of Southeast Asian Studies, vol. 18, no. 2, 1987, pp. 294–302. JSTOR, http://www.jstor.org/stable/20070972. Accessed 18 June 2026.
    • Bob Hering, 2001, Soekarno, architect of a nation, 1901–1970, KIT Publishers Amsterdam, KITLV Leiden
    • Bob Hering, Soekarno: Founding Father of Indonesia, 1901–1945 (2003)

    Rate this:

    #BovenDigul #Cerpen #Indonesia #Japan #life #Literature #Netherlands #PramoedyaAnantaToer #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #ShortStory #shortStories #War #WorldWarII #Writers
  18. Cerpen: Batu Dadu Karya Mochtar Lubis

    Batu Dadu

    Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)

    AKU berdiri dekat meja tempat main dadu, menonton orang-orang main – memperhatikan wajah orang yang bertukar-tukar, riang dan kecewa karena menang dan kalah – dan air muka orang yang tidak berobah sama sekali kalau kalah atau menang. Batu-batu dadu berdering-dering berlaga dengan piring, dan teriak bandar parau menyuruh orang memasang taruh memenuhi udara bercampur dengan bau manusia. Bau keringat dan minyak wangi. Bau yang biasanya melekat di udara jika ada keramaian manusia bersama-sama.

    “Banyakkah menang?” sekonyong-konyong suara halus berbisik di telingaku. Aku berpaling. Dan aku lihat dia berdiri di belakang. Tersenyum.

    “Engkau?”

    “Ya,” katanya. “Engkau kejam benar. Semenjak aku kawin, engkau tidak pernah datang-datang lagi.”

    “Ya. Tetapi tidakkah engkau lebih kejam lagi meninggalkan aku?”

    Dia tersenyum. Dan aku tersenyum kembali. Begitu saja. Seakan-akan apa yang kami alami dahulu bersama-sama terjadi dalam penghidupan dan dunia yang lain. Tidak ada sangkut-pautnya dengan pertemuan kami sekarang. Pertemuan di Pasar Malam ini. Hanya dia dan aku. Dua orang berkenalan. Bersahabat barangkali. Itu saja. Panas nyala nafsu dahulu tidak timbul dalam badan ketika kami bertemu kembali demikian.

    “Dengan siapa engkau?” tanyaku.

    “Sendiri saja,” katanya. “Suamiku ke Palembang.”

    “Oh.”

    “Aku hendak main sebentar,” katanya.

    Aku meminggir memberi tempat kepadanya.

    “Tidak,” katanya. “Pasangkanlah buat aku. Terlalu sempit dekat meja.”

    Diberikannya kepadaku sehelai uang kertas lima rupiah. “Ditukar dahulu?”

    “Tidak,” katanya. “Pasanglah semuanya.”

    “Di mana?”

    “Di mana saja.”

    Aku letakkan di angka tiga. Buah dadu dikocok, berdering-dering. Dibuka, keluar dua lima dan satu-satu.

    “Kalah,” kataku.

    Dia tertawa.

    “Ini lagi,” katanya, dan diberikannya sehelai uang kertas lima rupiah lagi.

    “Di mana?”

    “Di mana saja.”

    “Tidak,” kataku. “Tadi aku pasang sudah kalah. Sekarang engkaulah yang memilihnya.”

    “Lima,” katanya dan aku letakkan di angka lima. Buah dadu dikocok berdering-dering, suara bandar parau berteriak menyuruh pasang taruh, dan dibukanya. Kalah lagi. Lima rupiah lagi. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Hingga akhirnya dia telah kalah tujuh puluh lima rupiah.

    “Sudahlah,” kataku. “Itu seperempat gajiku telah hilang.” Dia tertawa. “Masa baru begini telah berhenti,” katanya. Dan diberikannya kepadaku uang kertas seratus. Aku tukarkan kepada bandar dengan uang kertas lima rupiah. Tiga kali berturut-turut kalah lagi.

    “Ah, ini penghabisan,” kataku. Dan aku letakkan sepuluh rupiah di atas angka tiga. Dua angka tiga keluar. Dia tertawa riang.

    “Pasang lagi,” katanya, dan tangannya memeluk lenganku.

    Aku pasang. Menang. Pasang. Menang. Dan tiap kali menang, dia bertambah riang, dan tangannya makin keras memegang lenganku, dan badannya makin rapat kepadaku, hingga dadanya terasa lembut menembus kain kemeja.

    Kekalahannya hanya tinggal lima belas rupiah lagi. Ditariknya tanganku mengajak pergi.

    “Terus saja main,” kataku.

    Dia tertawa.

    “Sudahlah,” katanya. “Itu untuk membayar kita main sejam lamanya.” Aku berikan uangnya kepadanya.

    “Peganglah,” katanya.

    Aku masukkan ke saku bajuku. Kami berjalan meninggalkan tempat main dadu. Dia berhenti di depan tempat permainan menembak dengan senapan angin.

    “Tembakkan buat aku sebotol minyak wangi Tosca,” katanya.

    Botol minyak wangi Tosca itu terletak di atas nomor 12. Aku bidik. Tidak kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Hingga delapan kali.

    “Apa boleh buat,” kataku. “Aku bukan juru tembak.”

    Dia tertawa-tawa mengganggu aku. Kemudian dia mengajak aku ke restoran. Restoran penuh dan kami terpaksa berdiri sebentar menunggu meja menjadi kosong. Sebuah orkes keroncong main. Suara penyanyinya seperti bunyi paku digoreskan ke atap seng. Kemudian beberapa orang keluar dan kami duduk menggantikan mereka.

    “Makan?”

    “Tidak. Minum saja.”

    “Apa?”

    “Apa saja,” dan dia tersenyum.

    Aku pandangi matanya. Seakan-akan cahaya api lama bernyala di belakang matanya. Aku pesan creme de menthe.

    Kemudian, “Kurang keras ini,” katanya. Aku lihat dia. Dia melihat kembali. Aku pesan wiski. Dan kemudian, “Tidak panas engkau rasa di sini?” tanyanya.

    Kami keluar dari Pasar Malam. Aku panggil becak.

    “Tidak. Jangan itu,” katanya. “Yang pakai tutup.”

    Dia bersandar ke bahuku. Dan tiba-tiba di ciumnya mulutku keras-keras.

    “Engkau mabuk,” kataku.

    “Karena engkau,” katanya.

    Begitu saja. Mulutnya yang lunak lembut. Wangi bedak di pipinya. Wangi rambutnya. Tubuhnya yang panas. Dan tiba-tiba nyala api dalam malam-malam dahulu, ketika kami serumah — aku bayar makan di rumah pamannya — berkobar kembali, memeluk tubuhku dalam pelukan merah panas. Dan kemudian kami tidak dibecak lagi. Hanya berdua-dua saja dikelilingi empat buah dinding. Pintu tertutup. Kamar yang asing. Kemudian api surut. Padam. Tinggal debu panas. Tidak ada bara menyala. Dan debu cepat menjadi dingin. Hilang diserakkan angin. Tidak ada yang tinggal dalam hati. Rasa kecewa. Kosong. Bukan menyesal. Tetapi kecewa. Seperti main dadu, tidak keluar nomor taruhan. Hanya dia kelihatan girang.

    Dan ketika aku antar dia pulang, dipegangnya tanganku di depan pagar pekarangan.

    “Sampai di sini saja,” kataku. “Telah larut malam.”

    “Ya,” katanya.

    “Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya. Dia memandang kepadaku.

    Aku lihat matanya. Ketika itu aku tahu. Mengapa aku merasa kecewa. Karena baginya malam ini bukan lanjutan malam-malam dahulu, sebelum dia kawin. Aku ambil uangnya dari saku bajuku. Ditolaknya tanganku, dan dia berpaling, berlari kecil, naik beranda. Ke dalam telingaku serasa terdengar suaranya seperti di tempat main dadu tadi… itu untuk belajar kesenangan kita main sejam lamanya….

    Dia membuka pintu. Cahaya lampu dari dalam mengalir keluar menembus gelap dalam beranda, dia melangkah ke dalam, menutup pintu, dan beranda itu gelap kembali.

    Aku lihat uang kertas di tanganku. Selintas aku pikir hendak membuangnya. Aku bukan jago, pikirku dengan marah. Tetapi kemudian uang itu aku simpan kembali. Dan aku melangkah pulang.

    Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 85.

    Foto: Ismail Marzuki (bottom right, playing saxophone) with The Jazz Division of Lief Java Orchestra, 1936, https://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki and https://en.wikipedia.org/wiki/Gugur_Bunga.

    Orkes Krontjong

    https://youtu.be/fk7Xx91-ymA?si=OL_VyYLH0em5LU5Y

    CNN Indonesia, Maret 6 2023: “Jakarta punya segudang keunikan. Kali ini Sisi Kota mengunjungi kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki cerita yang berusia empat abad. Permukiman yang didiami peranakan Portugis ini mencoba bertahan di tengah gerusan perkembangan zaman termasuk dengan keseniannya.” Sumber: https://www.krontjongtoegoe.com/

    Batu Dadu Jaman Revolusi

    Soort gokspel. Bankbiljetten liggen op een laken met afbeeldingen van dobbelstenen, April 1948

    Rate this:

    #books #Cerpen #Colonialism #History #Indonesia #Literature #MochtarLubis #Netherlands #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #Sejarah #ShortStory #SiDjamal #WorldWarII
  19. 🎥 O ciclo de cinema "Lisboa, Capital da Intriga", cujo curador é Rui Lopes, continua a preencher a Cinemateca Portuguesa com muito 'eurospy' e outras fitas de intriga e espionagem passadas/gravadas em Lisboa.

    🕵🏽 Esta noite, oportunidade de ver 'The Secret Door' (Gilbert Kay, 1964), uma cópia raríssima vinda da Suécia!

    👉 ihc.fcsh.unl.pt/marco-lisboa-c

    #Histodons #Eurospy #FilmCycle #Espionagem #CicloDeCinema #Lisboa #BFilms #SérieB #WorldWarII #SegundaGuerraMundial

  20. “The Wounded Generation”: Bearing the invisible scars of war – YouTube

    “The Wounded Generation”: Bearing the invisible scars of war
    CBS Sunday Morning

    1.78M subscribers, 37,612 views Nov 9, 2025

    When the “Greatest Generation” returned home from World War II, many veterans had suffered psychic wounds that were not diagnosed or understood at the time to be PTSD. For his new book, “The Wounded Generation,” historian David Nasaw researched the experiences of WWII veterans – from suffering survivor’s guilt, to receiving electro-shock therapy treatments – that give insights into the emotional traumas facing veterans of all wars. Lesley Stahl reports.

    “CBS News Sunday Morning” features stories on the arts, music, nature, entertainment, sports, history, science and Americana, and highlights unique human accomplishments and achievements. Check local listings for “CBS News Sunday Morning” broadcast times.

    Subscribe to the “CBS News Sunday Morning” YouTube channel: / cbssundaymorning
    Get more of “CBS News Sunday Morning”: https://cbsnews.com/sunday-morning/
    Follow “CBS News Sunday Morning” on Instagram: / cbssundaymorning
    Like “CBS News Sunday Morning” on Facebook: / cbssundaymorning
    Follow “CBS News Sunday Morning” on Twitter: / cbssunday
    Subscribe to our newsletter: https://cbsnews.com/newsletters/
    Download the CBS News app: https://www.cbsnews.com/mobile/
    Try Paramount+ free: https://paramountplus.com/?ftag=PPM-0…

    For video licensing inquiries, contact: [email protected]

    Continue/Read Original Article Here: “The Wounded Generation”: Bearing the invisible scars of war – YouTube

    Tags: CBS Sunday Morning, David Nasaw, Emotional Traumas, Historian, Invisible Scars, Nature of War, Psychic Wounds, PTSD, The Greatest Generation, Veterans, Warriors, World War II, Wounded Warriors, YouTube

    #cbsSundayMorning #davidNasaw #emotionalTraumas #historian #invisibleScars #natureOfWar #psychicWounds #ptsd #theGreatestGeneration #veterans #warriors #worldWarIi #woundedWarriors #youtube

  21. As an #urban #forest in the outskirts of #Berlin with diverse ecosystems, #Grundwald forest boasts a high #biodiversity. Special is the #Teufelsberg area, a #debrispile from #WorldWarII and home to diverse dry forest-#meadow# habitats. However, according to G. Wessolek & A. Toland (2017), the chemical properties of these special #urbansoils have potent and negative impacts on their #ecosystems.

    ©StefanFWirth 2025

    Ref
    G. Wessolek & A. Toland (2017)
    researchgate.net/publication/3

    Photos
    ©S. F. Wirth

  22. Žanis Lipke Memorial in Riga, Latvia

    This atmospheric museum honors a family who hid Jews during the Nazi occupation of Latvia.#soviethistory #holocaust #worldwarii #section-Atlas
    Žanis Lipke Memorial

  23. And my grandfather George was among them! 🇨🇦 "Most #Americans have NO IDEA how #Canada helped the #Netherlands during #WorldWarII. Today I am very interested in seeing the #Dutch honour Canada for the 80th anniversary of #Canadians liberating the Netherlands" - #TylerBucket youtu.be/mJ4b-C0r1V8?...

    American Reacts to the Dutch H...

  24. Great longform article from The Atlantic on the success and failures of #IBM, from #typewriters and #punchcards to letting #BillGates and #Microsoft keep #DOS, IBM in #WorldWarII, just a fun #tech #history

    The Rise and Fall of the ‘IBM Way’
    What the tech pioneer can, and can’t, teach us
    theatlantic.com/magazine/archi

  25. How to deal with the lessons of a painful history? That’s a question which has troubled Germany since the end of World War II. An obscure airport building on...
    East Berlin 'generals’ hotel': Campaign to save building from demolition
  26. "In some ways, rebuilding #Ukraine may be more financially difficult than conducting the war itself. The country has already suffered levels of #damage not seen in #Europe since #WorldWarII, and it took 20 to 30 years for Germany and the United Kingdom to rebuild after the war. (..)

    Whether Ukraine and its #WesternAllies will ever be able to compel #Russia to pay #reparations will depend on the outcome of the #war."

    rand.org/blog/2023/03/conseque

  27. Republicans:
    If you’d stop kissing dictators’ asses and read a U.S. history book, you might realize that AntiFa are the good guys.
    #AntiFa #antiFascism #TheGreatestGeneration #WorldWarII #WorldWar2

  28. The Fliegerfaust Roars Back to Life After 77 Years - As their prospects for victory in the Second World War became increasingly grim, t... - hackaday.com/2022/03/09/the-fl #rocketlauncher #weaponshacks #worldwarii #history #wwii