home.social

#mochtar-lubis — Public Fediverse posts

Live and recent posts from across the Fediverse tagged #mochtar-lubis, aggregated by home.social.

fetched live
  1. Cerpen: Batu Dadu Karya Mochtar Lubis

    Batu Dadu

    Cerpen Karya Mochtar Lubis (1950)

    AKU berdiri dekat meja tempat main dadu, menonton orang-orang main – memperhatikan wajah orang yang bertukar-tukar, riang dan kecewa karena menang dan kalah – dan air muka orang yang tidak berobah sama sekali kalau kalah atau menang. Batu-batu dadu berdering-dering berlaga dengan piring, dan teriak bandar parau menyuruh orang memasang taruh memenuhi udara bercampur dengan bau manusia. Bau keringat dan minyak wangi. Bau yang biasanya melekat di udara jika ada keramaian manusia bersama-sama.

    “Banyakkah menang?” sekonyong-konyong suara halus berbisik di telingaku. Aku berpaling. Dan aku lihat dia berdiri di belakang. Tersenyum.

    “Engkau?”

    “Ya,” katanya. “Engkau kejam benar. Semenjak aku kawin, engkau tidak pernah datang-datang lagi.”

    “Ya. Tetapi tidakkah engkau lebih kejam lagi meninggalkan aku?”

    Dia tersenyum. Dan aku tersenyum kembali. Begitu saja. Seakan-akan apa yang kami alami dahulu bersama-sama terjadi dalam penghidupan dan dunia yang lain. Tidak ada sangkut-pautnya dengan pertemuan kami sekarang. Pertemuan di Pasar Malam ini. Hanya dia dan aku. Dua orang berkenalan. Bersahabat barangkali. Itu saja. Panas nyala nafsu dahulu tidak timbul dalam badan ketika kami bertemu kembali demikian.

    “Dengan siapa engkau?” tanyaku.

    “Sendiri saja,” katanya. “Suamiku ke Palembang.”

    “Oh.”

    “Aku hendak main sebentar,” katanya.

    Aku meminggir memberi tempat kepadanya.

    “Tidak,” katanya. “Pasangkanlah buat aku. Terlalu sempit dekat meja.”

    Diberikannya kepadaku sehelai uang kertas lima rupiah. “Ditukar dahulu?”

    “Tidak,” katanya. “Pasanglah semuanya.”

    “Di mana?”

    “Di mana saja.”

    Aku letakkan di angka tiga. Buah dadu dikocok, berdering-dering. Dibuka, keluar dua lima dan satu-satu.

    “Kalah,” kataku.

    Dia tertawa.

    “Ini lagi,” katanya, dan diberikannya sehelai uang kertas lima rupiah lagi.

    “Di mana?”

    “Di mana saja.”

    “Tidak,” kataku. “Tadi aku pasang sudah kalah. Sekarang engkaulah yang memilihnya.”

    “Lima,” katanya dan aku letakkan di angka lima. Buah dadu dikocok berdering-dering, suara bandar parau berteriak menyuruh pasang taruh, dan dibukanya. Kalah lagi. Lima rupiah lagi. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Lima rupiah. Kalah. Hingga akhirnya dia telah kalah tujuh puluh lima rupiah.

    “Sudahlah,” kataku. “Itu seperempat gajiku telah hilang.” Dia tertawa. “Masa baru begini telah berhenti,” katanya. Dan diberikannya kepadaku uang kertas seratus. Aku tukarkan kepada bandar dengan uang kertas lima rupiah. Tiga kali berturut-turut kalah lagi.

    “Ah, ini penghabisan,” kataku. Dan aku letakkan sepuluh rupiah di atas angka tiga. Dua angka tiga keluar. Dia tertawa riang.

    “Pasang lagi,” katanya, dan tangannya memeluk lenganku.

    Aku pasang. Menang. Pasang. Menang. Dan tiap kali menang, dia bertambah riang, dan tangannya makin keras memegang lenganku, dan badannya makin rapat kepadaku, hingga dadanya terasa lembut menembus kain kemeja.

    Kekalahannya hanya tinggal lima belas rupiah lagi. Ditariknya tanganku mengajak pergi.

    “Terus saja main,” kataku.

    Dia tertawa.

    “Sudahlah,” katanya. “Itu untuk membayar kita main sejam lamanya.” Aku berikan uangnya kepadanya.

    “Peganglah,” katanya.

    Aku masukkan ke saku bajuku. Kami berjalan meninggalkan tempat main dadu. Dia berhenti di depan tempat permainan menembak dengan senapan angin.

    “Tembakkan buat aku sebotol minyak wangi Tosca,” katanya.

    Botol minyak wangi Tosca itu terletak di atas nomor 12. Aku bidik. Tidak kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Sekali lagi. Tidak juga kena. Hingga delapan kali.

    “Apa boleh buat,” kataku. “Aku bukan juru tembak.”

    Dia tertawa-tawa mengganggu aku. Kemudian dia mengajak aku ke restoran. Restoran penuh dan kami terpaksa berdiri sebentar menunggu meja menjadi kosong. Sebuah orkes keroncong main. Suara penyanyinya seperti bunyi paku digoreskan ke atap seng. Kemudian beberapa orang keluar dan kami duduk menggantikan mereka.

    “Makan?”

    “Tidak. Minum saja.”

    “Apa?”

    “Apa saja,” dan dia tersenyum.

    Aku pandangi matanya. Seakan-akan cahaya api lama bernyala di belakang matanya. Aku pesan creme de menthe.

    Kemudian, “Kurang keras ini,” katanya. Aku lihat dia. Dia melihat kembali. Aku pesan wiski. Dan kemudian, “Tidak panas engkau rasa di sini?” tanyanya.

    Kami keluar dari Pasar Malam. Aku panggil becak.

    “Tidak. Jangan itu,” katanya. “Yang pakai tutup.”

    Dia bersandar ke bahuku. Dan tiba-tiba di ciumnya mulutku keras-keras.

    “Engkau mabuk,” kataku.

    “Karena engkau,” katanya.

    Begitu saja. Mulutnya yang lunak lembut. Wangi bedak di pipinya. Wangi rambutnya. Tubuhnya yang panas. Dan tiba-tiba nyala api dalam malam-malam dahulu, ketika kami serumah — aku bayar makan di rumah pamannya — berkobar kembali, memeluk tubuhku dalam pelukan merah panas. Dan kemudian kami tidak dibecak lagi. Hanya berdua-dua saja dikelilingi empat buah dinding. Pintu tertutup. Kamar yang asing. Kemudian api surut. Padam. Tinggal debu panas. Tidak ada bara menyala. Dan debu cepat menjadi dingin. Hilang diserakkan angin. Tidak ada yang tinggal dalam hati. Rasa kecewa. Kosong. Bukan menyesal. Tetapi kecewa. Seperti main dadu, tidak keluar nomor taruhan. Hanya dia kelihatan girang.

    Dan ketika aku antar dia pulang, dipegangnya tanganku di depan pagar pekarangan.

    “Sampai di sini saja,” kataku. “Telah larut malam.”

    “Ya,” katanya.

    “Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya. Dia memandang kepadaku.

    Aku lihat matanya. Ketika itu aku tahu. Mengapa aku merasa kecewa. Karena baginya malam ini bukan lanjutan malam-malam dahulu, sebelum dia kawin. Aku ambil uangnya dari saku bajuku. Ditolaknya tanganku, dan dia berpaling, berlari kecil, naik beranda. Ke dalam telingaku serasa terdengar suaranya seperti di tempat main dadu tadi… itu untuk belajar kesenangan kita main sejam lamanya….

    Dia membuka pintu. Cahaya lampu dari dalam mengalir keluar menembus gelap dalam beranda, dia melangkah ke dalam, menutup pintu, dan beranda itu gelap kembali.

    Aku lihat uang kertas di tanganku. Selintas aku pikir hendak membuangnya. Aku bukan jago, pikirku dengan marah. Tetapi kemudian uang itu aku simpan kembali. Dan aku melangkah pulang.

    Sumber: Batu Dadu (Dice) adalah cerita pendek dari kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis, Si Djamal : dan tjerita2 lain / oleh Mochtar Lubis, Gapura, Djakarta, 1950, h. 85.

    Foto: Ismail Marzuki (bottom right, playing saxophone) with The Jazz Division of Lief Java Orchestra, 1936, https://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki and https://en.wikipedia.org/wiki/Gugur_Bunga.

    Orkes Krontjong

    https://youtu.be/fk7Xx91-ymA?si=OL_VyYLH0em5LU5Y

    CNN Indonesia, Maret 6 2023: “Jakarta punya segudang keunikan. Kali ini Sisi Kota mengunjungi kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki cerita yang berusia empat abad. Permukiman yang didiami peranakan Portugis ini mencoba bertahan di tengah gerusan perkembangan zaman termasuk dengan keseniannya.” Sumber: https://www.krontjongtoegoe.com/

    Batu Dadu Jaman Revolusi

    Soort gokspel. Bankbiljetten liggen op een laken met afbeeldingen van dobbelstenen, April 1948

    Rate this:

    #books #Cerpen #Colonialism #History #Indonesia #Literature #MochtarLubis #Netherlands #Relationships #renungan #Revolution #Sastra #Sejarah #ShortStory #SiDjamal #WorldWarII