home.social

#jogja — Public Fediverse posts

Live and recent posts from across the Fediverse tagged #jogja, aggregated by home.social.

fetched live
  1. I was destined to spend the rest of my adult life pining for Southeast Asian street food (2004?)

    #Food #TootSea #Indonesia #Jogja

  2. Salah satu jaringan konter pulsa besar di #Jogja mulai jualan rokok. Gak tanggung-tanggung, mereka naruh rokok di etalase utamanya. Antara karena daya beli orang beli pulsa/voucher internet turun atau memang orang-orang sekarang lebih banyak beli pulsa/voucher langsung lewat aplikasi?

    Kayaknya gak mungkin banget konter pulsa jualan rokok
    😅

  3. Pertama kali ngopi di kafe, itu pun dalam rangka ikut kelas bahasa isyarat, saya aja "syok". Kenapa juga dine in tetep pakai gelas plastik. Menu minuman hanya disajikan di gelas kaca jika minumannya panas (bukan es).

    Tips aja buat kamu yang pengin ngerjain tugas atau kongkow di kafe di Jogja, pilih aja kafe oldskul, semacam Bjong. Mau panas atau dingin, sajiannya tetap pakai gelas kaca. Bento Kopi kayaknya juga begitu.

    https://www.mongabay.co.id/2023/12/21/kedai-kopi-menjamur-sampah-plastik-makin-menumpuk-di-yogyakarta/

    #jogja #kopi #kedai #kafe #plastik

  4. Ada klub buku baru di Jogja. Jogja Book Club, sister clubnya Jakarta Book Club.

    Jadi, kini ada dua klub buku besar dan berpotensi besar di Jogja:

    1. Klub Buku Yogya
    2. Jogja Book Club

    Sayangnya, bagi saya, keduanya terlalu sastrawi
    😅. Yang pertama justru banyak senior, bahasannya udah kayak kuliah (terlihat juga di postingannya dan berdasarkan testimoni seorang kawan).

    #jogja #KlubBuku

  5. Peta timbunan sampah di jalanan #Jogja pasca TPST Piyungan ditutup. Bakal makin banyak titik merahnya ini 😅

    https://maphub.net/harisfirdaus/yogyakarta-darurat-sampah

    #indonesia

  6. CW: Koran dan situasi di Jogja itu faktap

    Yang faktap dari koran di #Jogja adalah mereka dituntut untuk mendukung segala kebijakan Pemda DIY (ehhm raja juga), secara gak langsung maupun gak langsung.

    Ketidaksetujuan warga atas kebijakan hanya disampaikan sebagai "kekhawatiran", sedangkan teknis kebijakan ditampilkan selayaknya bakal berjalan secara ideal. Penolak kebijakan aja di-gaslight kok. "Jangan hanya mau menerima uangnya tetapi tidak mau menerima sampahnya."

    Ini kalau koran mau mencerdaskan pembacanya, tulis aja "teknologi" yang dipakai di Piyungan aja gagal kok. Dan juga, seputar Pemda yang nolak saran banyak ahli pengelolaan sampah selama ini.

    Iya, faktap!